Kumpulan Pengertian

Kumpulan Pengertian Menurut Para Ahli

Tuesday, January 24, 2023

Pengertian Koperasi Menurut Para Ahli

Pengertian Koperasi Menurut Para Ahli

Pengertian Koperasi

Koperasi lahir di Indonesia pada abad ke-20 dari kalangan rakyat ketika penderitaan dalam lapangan ekonomi dan sosial yang ditimbulkan oleh sistem kapitalisme semakin memuncak. Koperasi berkembang menjadi organisasi bisnis yang dimiliki dan dioperasikan oleh orang- seorang demi kepentingan bersama. Koperasi melandaskan kegiatan berdasarkan prinsip gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan. Koperasi di Indonesia didefinisikan sebagai badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip-prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan.

Menurut Arief Subyantoro (2015) , Koperasi berasal dari kata : Co dan operation, Co berarti bersama dan operation berarti kegiatan/pekerjaan. Dari dua kata tersebut pengertian dasarnya menjadi “Bersama-sama melakukan kegiatan atau pekerjaan untuk mencapai suatu tujuan bersama, secara demokratis, terbuka dan sukarela.

Menurut UU RI No.25 Tahun 1992, Koperasi adalah badan ekonomi yang sosial dan beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan (Ps. 1 Ayat 1). Koperasi melandaskan kegiatan berlandaskan Pancasila dan Undang- Undang Dasar 1945 serta berdasar atas asas kekeluargaan.

Menurut (Dr. Fay:2013), Koperasi adalah suatu perserikatan dengan tujuan berusaha bersama yang terdiri atas mereka yang lemah dan diusahakan selalu dengan semangat tidak memikirkan dari sendiri sedemikian rupa, sehingga masing-masing sanggup menjalankan kewajibannya sebagai anggota dan mendapat imbalan sebanding dengan pemanfaatan mereka terhadap organisasi.

Dari definisi-definisi diatas dapat di simpulkan koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum, dan melakukan usaha bersama atas dasar prinsip-prinsip koperasi, sehingga mendapatkan manfaat yang lebih besar dengan biaya rendah melalui perusahaan yang dimiliki dan diawasi secara demokratis oleh anggotanya.




Prinsip Koperasi

Berdasarkan pasal 5 ayat 1 dan ayat 2 UU RI No.25 Tahun 1992, maka dapat diketahui prinsip koperasi yaitu:

Menurut ayat 1 koperasi melaksanakan prinsip koperasi sebagai berikut:
1. Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka.
Siapa pun bisa masuk menjadi anggota koperasi tanpa ada paksaan dari pihak mana pun dan jika sudah masuk menjadi anggota koperasi, anggota harus mengikuti kesepakatan yang telah di buat bersama, dari sistem koperasi, modal pinjaman dll.


2. Pengelolaan dilakukan secara demokrasi
Pengelolaan dilakukan secara demokratis, maka semua yang kita laksanakan atau lakukan kita harus di rundingkan terlebih dahulu dan memikirkan usulan yang terbaik untuk semua anggota koperasi.

3. Pembagian sisa hasil usaha dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya jasa usaha masing-masing anggota.
SHU yang di dapat dari koperasi, di bagi rata kepada anggota koperasi dengan ini koperasi benar-benar berlandaskan asas kepercayaan, kekeluargaan dan keadilan.

4. Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal.
Balas jasa atau upah yang dimaksudkan tersebut tidak besar, di karenakan modal dari koperasi itu tidak besar.

5. Kemandirian.
Kemandirian yang dimaksud adalah koperasi mengutamakan kemandirian dari anggotanya untuk membangun dan mengembangkan potensi diri.


Menurut ayat 2 dalam pengembangan koperasi dapat melaksanakan prinsip sebagai berikut:
1. Pendidikan pengkoprasian
Koperasi mendidik kita untuk mandiri, mengembangkan potensi diri, mendidik kita untuk mengerti dan mengutamakan asas kekeluaragaan.

2. Kerjasama antar koperasi.
Kerjasama itu sangat di perlukan entah itu di dalam satu koperasi atau antar koperasi, di manfaatkan untuk potensi dari masing-masing koperasi itu atau potensi indvidu yang ada di dalam koperasi tersebut.


Menurut Subyantoro, Arief Dkk (2015,27), Prinsip Dasar Koperasi dibagi menjadi 3 yaitu :
1. Prinsip Identitas
Prinsip identitas merupakan prinsip yang dikaitkan dengan hubungan koperasi terhadap individu atau kelompok dengan maksud untuk mencapai tujuan umum, sasaran-sasaran kongkkrit melalui kegiatan ekonomis untuk memperoleh manfaat secara bersama. Rekomendasi mengenai peranan koperasi dalam pembangunan ekonomi dan sosial dinegara berkembang di kaitkan erat dengan definisi koperasi yang akhirnya dapat diketahui kegunaan definisi koperasi yaitu:
  • Untuk menghilangkan perbedaan pendapat, sekaligus untuk mencapai keseragaman pendapat
  • Sebagai pedoman untuk melaksanakan aktifitas koperasi.
  • Sebagai dasar / landasan pengembangan koperasi.
  • Untuk membedakan koperasi denngan lembaga-lembaga lain.

2. Prinsip dual identies
Menurut ahli koperasi dari jerman dan amerika serikat: fungsi dasar dari karakteristik koperasi dapat digambarkan melalui kriteria identitas atau prinsip identity yang merupakan identitas pribadi antara pemilik dan pembeli, yang membedakan koperasi dengan organisasi usaha lain.

3. Prinsip Rockdale
Rackedale adalah seorang kebangsaan inggris yang berusaha mengembangkan koperasi yang dilakukan secara eksperimental dan setelah beliau berdiskusi untuk mendirikan suatu koperasi pada tanggal 24 oktober 1844 dan memulai usaha pertokoan sebagai usahanya sendiri. Pristiwa tersebut seringkali dianggap sebagai kelahiran “Gerakan Koperasi Modern”.

Prinsip-prinsip Rockdale adalah sebagai berikut:
  • Keanggotaan yang bersifat terbuka
  • Pengawasan yang terbatas atas modal anggota
  • Pengembalian sisa hasil usaha sesuai dengan jasanya pada koperasi (patronage refund).
  • Barang-barang hanya dijual dengan harga pasar yang berlaku dana aliran politik.
  • Tidak ada perbedaan berdasarkan ras, suku bangsa, agama, dan aliran politik.
  • Barang-barang yang dijual harus merupakan barang-brang yang asli yang tidak rusak atau palsu.
  • Pendidikan terhadap anggota secara berkesinambungan.
  • Netral terhadap agama, dan anutan politik.


Fungsi dan Peran Koperasi

Sebagaimana dikemukakan dalam pasal 4 UU No. 25 Tahun 1992, fungsi dan peran koperasi di Indonesia seperti berikut ini :
  1. Membangun dan mengembangkan potensi serta kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial. Potensi dan kemampuan ekonomi para anggota koperasi pada umumnya relatif kecil. Melalui koperasi, potensi dan kemampuan ekonomi yang kecil itu dihimpun sebagai satu kesatuan, sehingga dapat membentuk kekuatan yang lebih besar. Dengan demikian koperasi akan memiliki peluang yang lebih besar dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial anggota koperasi pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.
  2. Turut serta secara aktif dalam upaya meningkatkan kualitas kehidupan manusia dan masyarakat. Peningkatan kualitas kehidupan hanya bisa dicapai koperasi jika ia dapat mengembangkan kemampuannya dalam membangun dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi anggota-anggotanya serta masyarakat disekitarnya.
  3. Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional. Koperasi adalah satu-satunya bentuk perusahaan yang dikelola secara demokratis. Berdasarkan sifat seperti itu maka koperasi diharapkan dapat memainkan peranannya dalam menggalang dan memperkokoh perekonomian rakyat. Oleh karena itu koperasi harus berusaha sekuat tenaga agar memiliki kinerja usaha yang tangguh dan efisien. Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional yang merupakan usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi. Sebagai salah satu pelaku ekonomi dalam sistem perekonomian Indonesia, koperasi mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan perekonomian nasional bersama-sama dengan pelaku-pelaku ekonomi lainnya. Dengan demikian koperasi harus mempunyai kesungguhan untuk memiliki usaha yang sehat dan tangguh, sehingga dengan cara tersebut koperasi dapat mengemban amanat dengan baik.


Sumber:
Arief, Subyantoro, Aryono dan Tacobus, Sudaryoto. 2015. Manajemen Koperasi. Yogyakarta: Penerbit Gosyen Publishing.


Sekian uraian tentang Pengertian Koperasi Menurut Para Ahli, semoga bermanfaat..!

Wednesday, December 14, 2022

Pengertian Interaksi Menurut Para Ahli

Pengertian Interaksi Menurut Para Ahli

Pengertian Interaksi

Dalam kehidupan, kita selalu berinteraksi dengan orang lain, baik secara sadar maupun tidak sadar. Ketika dua orang akan saling berpapasan, mereka sekilas akan saling memandang dari kejauhan. Hal demikian juga termasuk interaksi. 

Menurut pendapat Soejono bahwa :
Walaupun orang-orang yang bertemu di jalan tidak saling berbicara atau tidak saling menukar tanda-tanda, interaksi telah terjadi. Karena masing-masing sadar akan adanya pihak lain yang menyebabkan perubahan-perubahan dalam perasaan maupun syaraf orang-orang yang bersangkutan, yang disebabkan oleh misalnya bau keringat, minyak wangi, suara berjalan, dan sebagainya. Semua itu menimbulkan kesan didalam pikiran sesorang, yang kemudian, menentukan tindakan apa yang akan dilakukan.

Meskipun demikian agar lebih jelas defenisi dari kata interaksi. Kata interaksi berasal dari kata “inter” yang artinya “antar” dan “aksi” yang artinya tindakan. Interaksi berarti antar-tindakan.

Menurut pendapat Etin sholihatin bahwa :
Interaksi merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, sehingga manusia harus mampu melakukan interaksi dengan pihak lain. Interaksi dapat dilakukan secara verbal maupun nonverbal, didalam interaksi harus memiliki setidaknya 3 (tiga) unsur, yaitu komunikator (orang yang melakukan komunikasi), Komunikan(orang yang dijadikan sasaran atau objek), dan informasi (bahan yang dijadikan komunikasi atau interaksi).

Sedangkan menurut Thibaut dan Kelley dalam skripsi Afandi mendefenisikan interaksi sebagai :
Peristiwa saling mempengaruhi satu sama lain ketika dua orang atau lebih hadir bersama, mereka menciptakan hasil satu sama lain atau berkomunikasi satu sama lain. Jadi dalam kasus interaksi, tindakan setiap orang bertujuan untuk mempengaruhi individu lain.


Begitu juga dengan pendapat dari Hormans yang dituangkan dalam skripsi Afandi mendefenisikan bahwa :
Interaksi sebagai suatu kejadian ketika suatu aktifitas yang dilakukan oleh individu lain diberi ganjaran atau hukuman dengan menggunakan suatu tindakan oleh individu lain yang menjadi pasangannya. Konsep yang dilakukan oleh Hormans ini mengandung pengertian bahwa suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam berinteraksi merupakan suatu stimulus bagi tindakan individu lain yang menjadi pasangannya.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa interaksi mengandung pengertian hubungan timbal-balik antara dua orang atau lebih, dan masing-masing orang yang terlibat di dalamnya memainkan peran secara aktif.



Bentuk-bentuk Interaksi

Bentuk interaksi dapat berupa kerja sama (cooperation), persaingan (competition), dan pertentangan (conflict). Dan bentuk interaksi tersebut dibagi menjadi dua bentuk yakni :

a. Interaksi Asosiatif

1) Kerja sama (Cooperation)
Menurut pendapat Elly yang menerangkan pengertian kerja sama yaitu:
Usaha bersama-sama antar manusia untuk mencapai tujuan bersama. Dengan perkataan lain, kerja sama adalah suatu bentuk interaksi sosial individu-individu atau kelompok-kelompok berusaha saling menolong untuk mencapai tujuan bersama atau mengorgadinasikan kegiatan mereka guna mencapai tujuan bersama.

Sedangkan menurut pendapat Saptono bahwa kerja sama merupakan:
Proses yang paling banyak terjadi di masyarakat. Masyarakat yang sangat kompetitif pun tidak akan dapat berjalan, jika tidak ada kerja sama di dalamnya. Kerja sama dapat terjadi dengan sendirinya, tanpa disadari oleh pihak-pihak yang bekerja sama.
Jadi, kerja sama dapat diartikan melakukan sesuatu hal atau pekerjaan dengan tujuan yang sama.

2) Akomodasi (Accomodation)
Penulis menjelaskan bahwa akomodasi adalah proses mencapai tujuan sementara diantara pihak-pihak yang sedangatau mempunyai potensi untuk berkomplik. Bentuk-bentuk akomodasi seperti Pengalihan sasaran (displacement), subordinasi, kompromi, toleransi, prosedur penyelesaian konplik yang melembaga.


b. Interaksi Disosiatif
1) Persaingan/kompetesi (competition)
Masih dalam pendapat Saptono dan bambang yang menerangkan :
Persainganadalah usaha untuk melakukan sesuatu secara lebih baik dibandingkan orang lain atau kelompok lain dalam mencapai tujuan. Persaingan terjadi apabila pemenuhan kebutuhan dan keinginan orang/kelompok tidak cocok dengan kebutuhan atau keinginan orang/kelompok lain.

2) Asimilasi (Asimilation)
Asimilasi adalah proses peleburan beberapa kebudayaan menjadi satu, sehingga akar komplik yang bersumber pada perbedaan kebudayaan terhapus.

3) Pertentangan/konplik (conflict)
Konplik adalah proses dimana orang atau kelompok berusaha memperoleh sesuatu (imbalan tertentu) dengan cara melemahkan atau menghilangkan persaingan atau competitor lain, bukan hanya mencoba tampil lebih seperti dalam kompetisi. Menurut Saptono dan bambang bahwa “konplik dapat bersifat terbuka dan menggunakan kekerasan seperti perkelahian, pengeboman, dan pembakaran, dan dapat juga terjadi secara tersembunyi dengan menggunakan jasa “dukun santet”, tipu daya, atau pihak ketiga.



Sumber:
Soerjono Soekanto, (2002), Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta : Raja Grafindo Persada, hal. 67.
Afandi, (2015), Hubungan antara Interaksi Sosial dalam Kelompok Teman Sebaya dan Motivasi Belajar dengan Prestasi Belajar Mesin Kantor Siswa XI SMA Negeri I Surakarta, hal. 9.


Sekian uraian tentang Pengertian Interaksi Menurut Para Ahli, semoga bermanfaat...!

Thursday, November 10, 2022

Pengertian Bahan Baku Menurut Para Ahli

Pengertian Bahan Baku Menurut Para Ahli

Pengertian Bahan Baku

Menurut Hanggana dalam (Lahu, 2017), menyatakan bahwa pengertian bahan baku adalah sesuatu yang digunakan untuk membuat barang jadi, bahan pasti menempel menjadi satu dengan barang jadi.

Menurut Masiyal Kholmi dalam (Lahu, 2017) bahan baku merupakan bahan yang membentuk sebagian besar produk jadi, bahan baku yang diolah dalam perusahaan manufaktur dapat diperoleh dari pembelian lokal, impor atau hasil pengolahan sendiri.

Menurut Mulyadi dalam (Herlin Herawati dan Dewi Mulyani, 2016) menyimpulkan bahwa:
Bahan baku merupakan bahan yang membentuk bagian menyeluruh, berdasarkan pengertian umum mengenai bahan baku merupakan bahan mentah yang menjadi dasar pembuatan suatu produk yang mana bahan tersebut dapat diolah melalui proses tertentu untuk dijadikan wujud lain.

Berdasarkan pendapat para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa bahan baku adalah sesuatu yang digunakan untuk membuat barang jadi yang diperoleh dari pembelian lokal, impor atau hasil pengolahan sendiri dan merupakan faktor penting yang harus dimanfaatkan secara efektif dan efisien untuk menciptakan keuntungan bagi perusahaan.




Tujuan Bahan Baku

Menurut (Herlin Herawati dan Dewi Mulyani, 2016) Tujuan dari persediaan bahan baku adalah menjamin tersedianya bahan baku pada tingkat yang optimal agar proses produksi dapat berjalan sesuai dengan rencana pada tingkat biaya yang minimum. Keberadaan bahan baku sangatlah penting dalam kelancaran proses produksi.


Macam Bahan Baku

Menurut (Ristono, 2013) ada dua macam kelompok bahan baku, yaitu :
1. Bahan baku langsung (direct material), yaitu bahan yang membentuk dan merupakan bagian dari barang jadi yang biayanya dengan mudah bisa ditelusuri dari biaya barang jadi tersebut. Jumlah bahan baku langsung bersifat variabel, artinya sangat tergantung atau dipengaruhi oleh besar kecilnya volume produksi atau perubahan output.

Contohnya : ikan salmon untuk pembuatan sushi

2. Bahan baku tak langsung (indirect material), yaitu bahan baku yang dipakai dalam proses produksi, tetapi sulit menelusuri biaya pada setiap barang jadi.

Contohnya : garam dan lada dalam pembuatan makanan.


Sistem Persediaan Bahan Baku

Menurut (Tampubolon, 2018), terdapat dua sistem yang dapat diterapkan untuk menentukan kapan pesanan kembali diadakan, antara lain :

1. Sistem Quantity Re-Order Point (Q/R System)
Jumlah persediaan yang diorder kembali sangat tergantung pada kebutuhan persediaan untuk proses konversi, pada kenyataan penggunaan persediaan bahan tidak pernah konstan dan selalu bervariasi.

2. Sistem Persediaan Perodik
Sistem ini merupakan cara interval waktu konstan (setiap; minggu,bulan, atau triwulan, dsb), tetapi jumlah pesanan bervariasi tergantung pada berapa jumlah penggunaan bahan antara waktu pesanan yang lalu dan waktu pemesanan berikutnya. Oleh sebab itu berdasarkan interval waktu yang tetap maka pesanan kembali (reorder point) dilakukan tanpa memperhatikan jumlah persediaan yang masih ada.


Peran Bahan Baku

Menurut Naibaho dalam (Mutiah & Apriana, 2018) menhemukakan bahwa persediaan bahan baku memiliki peranan yang sangat penting karena jalannya operasi perusahaan tergantung adanya bahan baku (Naibaho, 2013)


Sumber:
Herlin Herawati dan Dewi Mulyani. (2016). Pengaruh Kualitas Bahan Baku Dan Proses. Prosiding Seminar Nasional, ISBN 978-6, 463–482.


Sekian uraian tentang Pengertian Bahan Baku Menurut Para Ahli, semoga bermanfaat..!

Tuesday, October 11, 2022

Pengertian Resiko Bisnis Menurut Para Ahli

Pengertian Resiko Bisnis Menurut Para Ahli

Pengertian Risiko Bisnis 

Ricky W. Griffin dan Ronald J. Ebert yang diterjemahkan Irham Fahmi (2013), menyatakan bahwa risiko adalah ketidakpastian tentang kejadian di masa depan (uncertainty about future events). Risiko bisnis dapat diartikan sebagai ketidakpastian pada perkiraan keuntungan atau kerugian operasi perusahaan di masa yang akan datang. Risiko bisnis perusahaan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup perusahaan dan dimana perusahaan mampu untuk membayar utangnya. Perusahaan yang memiliki risiko bisnis yang tinggi cenderung kurang dapat menggunakan utang dalam jumlah yang besar dalam pendanaan perusahaan karena untuk menghindari tidak terbayarnya utang di masa yang akan datang.


Risiko bisnis menurut Brigham dan Houston (2014) sebagai berikut: “Business risk is the single most important determinant of capital structure, and it represents the amount of risk that is inherent in the firm’s operations even if it uses no debt financing.” 


Dari pengertian diatas, risiko bisnis diartikan sebagai satu-satunya penentu penting dari struktur modal dan itu mewakili jumlah risiko yang melekat dalam operasi perusahaan bahkan jika tidak menggunakan pembiayaan dengan utang. 


Menurut Gitman (2012) pengertian risiko bisnis sebagai berikut: “Business risk as the risk to the firm of being unable to cover its operating cost. In general, the greater the firm’s operating leverage-the use of fixed operating costs the higher its business risk.” 


Dari pengertian diatas, risiko bisnis diartikan sebagai risiko bagi perusahaan karena tidak dapat menutupi biaya operasionalnya. Secara umum, semakin besar leverage operasi perusahaan, penggunaan biaya operasi tetap semakin tinggi risiko bisnisnya. 


Menurut Yunita dan Tony Seno (2018) pengertian risiko bisnis adalah sebagai berikut: “Risiko bisnis merupakan salah satu risiko aset perusahaan yang akan dihadapi jika perusahaan menggunakan utang yang terlalu tinggi akibat beban biaya pinjaman yang dilakukan perusahaan.” 


Menurut Ratri dan Ari (2017) pengertian risiko bisnis sebagai berikut: “Risiko bisnis merupakan risiko dari perusahaan saat tidak mampu menutupi biaya operasionalnya dan dipengaruhi oleh stabilitas pendapatan dan biaya. Perusahaan dengan risiko bisnis yang tinggi cenderung menghindari pendanaan dengan menggunakan utang dibandingkan dengan perusahaan dengan risiko bisnis yang lebih rendah.


Sedangkan Setyawan, dkk (2016) menyatakan bahwa business risk merupakan ketidakpastian yang melekat dalam proyeksi tingkat pengembalian aktiva di masa depan yang dihadapi oleh perusahaan. Dari beberapa pengertian diatas mengenai risiko bisnis dapat disimpulkan bahwa risiko bisnis merupakan risiko dari perusahaan saat tidak mampu menutupi biaya operasionalnya yang sejalan dengan ketidakpastian tingkat pengembalian atau laba sebelum bunga dan pajak (Earning Before Interest and Tax/EBIT) atas total aktiva yang dimiliki perusahaan.





Indikator Risiko Bisnis

Tingkat risiko bisnis suatu perusahaan dapat dilihat dari perhitungan EBIT dibagi total aktiva, sehingga dari pembagian itu dapat dilihat besar kecilnya risiko bisnis yang ditentukan dari total aktiva yang dimiliki perusahaan. 

Menurut Ratri dan Ari (2017) indikator yang digunakan untuk menghitung risiko bisnis adalah Basic Earning Power Ratio (BEPR) sebagai berikut: 


𝐡𝐸𝑃𝑅 =        𝐸𝐡𝐼𝑇
               π‘‡π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ π΄π‘˜π‘‘π‘–π‘£π‘Ž


Tingkat risiko bisnis suatu perusahaan dapat juga dilihat dengan menghitung Degree of Operating Leverage (DOL). Menurut Gitman (2015) pengertian leverage operasi adalah “the potential use of fixed operating costs to magnifiy the effect of changes in sales on the firm’s EBIT”. Indikator yang digunakan untuk menghitung DOL menurut Gitman (2015:568) sebagai berikut:

𝐷𝑂𝐿 =     Ξ”𝐸𝐡𝐼𝑇 
               Ξ”π‘†π‘Žπ‘™π‘’π‘  

Menurut Agus Sartono (2010): 
“Business risk atau risiko bisnis dalam penelitian ini diproksikan dengan degree of operating leverage (DOL). Besar kecilnya degree of operating leverage (DOL) akan berdampak pada tinggi rendahnya risiko bisnis perusahaan.” 

Menurut Wimelda dan Aan Marlinah (2013) risiko bisnis dihitung dengan standar deviasi return saham secara bulanan selama setahun. Indikator yang digunakan adalah sebagai berikut: 


𝐡𝑅=𝑆𝑇𝐷 π‘…π‘’π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘› π‘†π‘Žβ„Žπ‘Žπ‘š 

𝐡𝑅 =   π‘ƒπ‘–𝑑−𝑃𝑖𝑑−1
               π‘ƒπ‘–𝑑−1 


Keterangan:
BR = Business Risk
STD = Standar deviasi
Pit = Closing price bulanan pada bulan t 
Pit-1 = Closing price bulanan pada bulan t-1 


Rasio risiko bisnis diatas menjelaskan perhitungan return yang diharapkan dan deviasi standar (risiko) dengan menggunakan data pengharapan. Dalam penelitian ini penulis menggunakan proksi BEPR yakni EBIT dibagi total aktiva sebagai alat untuk mengukur tingkat risiko bisnis. Alasan penulis menggunakan proksi BEPR ini, karena aktiva berhubungan dengan seberapa besar perusahaan menjaminkan aktivanya untuk penggunaan utang jangka panjang dalam pendanaan perusahaan, semakin besar tingkat aktiva yang dimiliki perusahaan, semakin besar penggunaan utang dalam pendanaan perusahaan. Artinya, semakin besar tingkat aktiva yang dimiliki perusahaan, semakin kecil risiko bisnis yang dimiliki perusahaan.


Sumber:
Brigham, Eugene F. dan Joel F. Houston. 2014. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. Buku 1. Edisi 11. Jakarta : Salemba Empat.


Sekian uraian tentang Pengertian Resiko Bisnis Menurut Para Ahli, semoga bermanfaat...!

Sunday, October 9, 2022

Pengertian Hutang Jangka Panjang Menurut Para Ahli

Pengertian Hutang Jangka Panjang Menurut Para Ahli

Hutang Jangka Panjang 

Hutang jangka panjang merupakan hutang yang jangka waktunya adalah panjang, umumnya lebih dari 10 tahun. Menurut Sartono (2008), hutang jangka panjang atau long-term debt adalah satu bentuk perjanjian antara peminjam dengan kreditur dimana kreditur bersedia memberikan pinjaman sejumlah tertentu dan peminjam bersedia untuk membayar secara periodik yang mencakup bunga dan pokok pinjaman. 

Menurut Munawir (2004), hutang jangka panjang adalah kewajiban keuangan yang jangka waktu pembayarannya (jatuh temponya) masih jangka panjang (lebih dari satu tahun sejak tanggal neraca). 


Hutang jangka panjang ini pada umumnya digunakan untuk membelanjai perluasan perusahaan (Ekspansi) atau modernisasi dari perusahaan dari perusahaan karena kebutuhan modal untuk keperluan tersebut meliputi jumlah yang besar. (Zefri Maulana dan Ayang Fhonna Safa. 2017).




Jenis Hutang Jangka Panjang 

Jenis dan bentuk-bentuk utama dari hutang jangka panjang (Long-term debt) antara lain : 

a. Pinjaman Obligasi (Bond Payables). 
Obligasi merupakan instrumen hutang jangka panjang yang digunakan oleh pemerintah atau perusahaan untuk mendapatkan dana jangka panjang. 

b. Pinjaman Hipotik (Mortgage)
Pinjaman hipotik merupakan pinjaman jangka panjang dimana pemberi uang (kreditur) diberi hak hipotik terhadap suatu batang tidak bergerak. Menurut Husnan dan Pusdjiastuti (2006:316), hipotik merupakan bentuk hutang jangka panjang dengan agunan aktiva tidak bergerak (Tanah bangunan) dalam perjanjian kreditnya disebutkan secara jelas aktiva apa yang di pergunakan sebagai agunan. (Zefri Maulana dan Ayang Fhonna Safa. 2017).


Hutang jangka panjang ini pada umumnya digunakan untuk membelanjai perluasan (ekspansi) atau modernisasi perusahaan, karena kebutuhan modal untuk keperluan tersebut meliputi jumlah besar. Makin panjang umur kredit yang ditarik adalah makin baik, karena makin panjangnya kesempatan untuk memperoleh aliran kas masuk, yang berarti makin besarnya kemampuan untuk membayar kembali hutangnya. Sedangkan semakin pendek umur kreditnya, makin besar risiko tidak dapat membayar kembali hutangnya karena makin kecilnya kesempatan untuk mengumpulkan dana untuk membayar kembali hutangnya (Riyanto, 2001:143). Tetapi perlu dipertimbangkan pula bahwa semakin panjang jangka waktu kredit maka beban bunga yang ditanggung oleh perusahaan juga semakin besar. 


Penggunaan hutang jangka panjang harus benar – benar diperhatikan, sehingga dapat dicapai efektifitas dari penggunaan hutang jangka panjang tersebut. Penggunaan hutang jangka panjang yang tidak / kurang efektif akan berpengaruh terhadap profitabilitas perusahaan. Pedoman untuk menghadapi hal tersebut adalah sebagai berikut (Riyanto, 2001:145) :

  1. Untuk aktiva lancer hendaknya dibiayai dengan kredit jangka pendek yang jangka waktu atau umurnya tidak lebih pendek daripada terikatnya dana dalam aktiva lancar tersebut;
  2. Untuk aktiva tetap yang tidak berputar (misalnya tanah), pada prinsipnya dibiayai dengan modal sendiri. Karena untuk jenis aktiva ini tidak diadakan depresiasi; 
  3. Untuk aktiva tetap yang tidak berputar secara berangsur – angsur (gedung, mesin, kendaraan dan sebagainya) dapat dibiayai dengan kredit jangka panjang atau modal sendiri. Jika digunakan kredit jangka panjang hendaknya jangka waktu atau umur kredit yang akan ditarik itu jangan lebih pendek daripada waktu terikatnya dana dalam aktiva tetap tersebut.

Subramanyam dan Wild (2009:171) menyatakan Kewajiban tak lancer (atau jangka panjang) merupakan kewajiban yang jatuh temponya tidak dalam waktu satu tahun atau satu siklus operasi, mana yang lebih panjang. Berdasarkan penjelasan dan definisi para ahli diatas maka dapat disimpulkan bahwa hutang jangka panjang merupakan pinjaman yang diperoleh dari pihak ketiga atau kreditor yang jatuh temponya lebih dari satu tahun dan dilunasi dengan sumber-sumber yang bukan dari aktiva lancar, serta jumlah hutang jangka panjang tersebut tidak boleh melebihi jumlah modal sendiri.


Sumber:
Agus Sartono, 2008, Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi Yogyakarta.


Demikian uraian tentang Pengertian Hutang Jangka Panjang Menurut Para Ahli...! semoga bermanfaat.

Friday, September 23, 2022

Pengertian Dokumentasi Menurut Para Ahli

Pengertian Dokumentasi Menurut Para Ahli

Pengertian Dokumentasi

Pengertaian dokumentasi dari beberapa organisasi antara lain : 
  1. Menurut keperluan perpustakaan khusus, dokumentasi adalah kepustakaan informasi dan bibliografi yang disesuaikan dengan keperluan perpustakaan khusus. 
  2. Menurut mikro reproduksi, dokumentasi adalah reproduksi dokumen dokumen dalam bentuk lebih kecil (mikro reproduksi) reproduksi) khususnya khususnya dalam bentuk microfilm.
  3. Menurut hasil seminar dokumentasi, dokumentasi adalah suatu aktivitas bagi suatu badan yang melayani badan tadi dengan menyajikan hasil pengolahan bahan-bahan dokumentasi yang bermanfaat bagi badan yang mengadakan dokumentasi 
  4. Menurut FID (Federation Internasional Documentation) dokumentasi adalah pekerjaan pengumpulan, penyusunan, dan penyebarluasan dokumen dari segala macam jenis lapangan aktivitas manusia. 
  5. Menurut NIDER ( Nederlanse Institutvoor Docomentatie Registratur), Dokumentasi adalah member keterangan-keterangan yang didasarkan pada bahan-bahan yang ada diperpustakaan dan pemberitahuan tentang literature.

Beberapa pemgertian tentang Dokumentasi dari sumber lainnya Dokumentasi adalah : 



Jenis-Jenis Dokumen

1. Jenis-jenis dokumen berdasarkan kepentingannya 
a. Dokumen pribadi
Dokumen yang menyangkut kepentingan perorangan. 
Contoh : Akta Kelahiran, KTP, SIM, Ijazah. 

b. Dokumen niaga
Dokumen yang berkaitan dengan perniagaan atau transaksi jual beli. 
Contoh : cek, nota, kwitansi. 

c. Dokumen pemerintah 
Dokumen yang berisi tentang informasi ketatanegaraan suatu pemerintahan. Contoh : UU, Keppres, Peraturan pemerintah. 

2. Jenis-jenis dokumen berdasarkan bentuk fisiknya 
a. Dokumen literer (di bidang perpustakaan)
Dokumen yang ada karena dicetak, ditulis, digambar atau direkam.
Contoh : buku, majalah, film. 

b. Dokumen korporil (di bidang permuseuman) 
Dokumen yang berupa benda bersejarah. 
Contoh : patung, fosil, uang kuno.

c. Dokumen privat (di bidang kearsipan) 
Dokumen yang berupa surat/arsip 
Contoh : surat niaga, surat dinas, laporan


3. Jenis-jenis dokumen berdasarkan fungsinya 
a. Dokumen dinamis 
Dokumen yang dipakai secara langsung dalam proses penyelesaian pekerjaan kantor. Ada tiga macam dokumen dinamis : 
  • Dokumen dinamis aktif adalah dokumen yang dipakai secara terus menerus dalam proses penyelenggaraan pekerjaan kantor
  •  Dokumen semiaktif adalah dokumen yang penggunaannya sudah menurun
  • Dokumen inaktif adalah dokumen yang sudah sangat jarang digunakan 
b. statis 
Dokumen yang tidak secara langsung dipergunakan dalam pekerjaan kantor.


4. Dokumen Menurut Sifatnya 
a. Dokumen Tekstual 
Dokumen tekstual adalah dokumen yang menyajikan informasi dalam bentuk tertulis. Misalnya : majalah, buku, catalog, surat kabar dll. 
b. Dokumen Nontekstual 
Dokumen nontekstual adalah dokumen yang berisi beberapa teks. misal: peta, grafik, gambar, rekaman dan sejenisnya.


5. Dokumen Menurut Jenisnya 
a. Dokumen Fisik 
Dokumen fisik adalah dokumen yang menyangkut materi ukuran, berat, tata letak, sarana prasarana, dan sebagainya. Dengan kata lain dokumen jenis ini berupa berkas surat-surat. 
b. Dokumen Intelektual 
Dokumen intelektual adalah dokumen yang mengacu kepada tujuan, isi subjek, sumber, metode penyebaran, cara memperoleh, keaslian dokumen dan sebagainya. 


6. Dokumen Menurut Dokumentasi 
a. Dokumen Primer 
Adalah dokumen yang berisi informasi tentang hasil-hasil penelitian asli atau langsung dari sumbernya. 
Contohnya: paten penelitian, laporan, disertasi. 
b. Dokumen Sekunder 
Adalah dokumen yang berisi informasi tentang literatur primer. Pada umumnya dokumen sekunder disebut dokumen bibliografi. 
c. Dokumen Tersier 
Adalah dokumen yang berisi informasi tentang literatur sekunder, misalnya: buku, teks panduan literature.



Sumber:
Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: CV Alfabeta. 


Sekian uraian tentang Pengertian Dokumentasi Menurut Para Ahli, semoga bermaanfaat.

Thursday, August 11, 2022

Pengertian Model Problem Solving Menurut Para Ahli

Pengertian Model Problem Solving Menurut Para Ahli

Pengertian Model Problem Solving

Menurut Agus Suprijono (2011) model pembelajaran ialah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran dikelas maupun tutorial. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang akan digunakan, termasuk didalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas. Melalui model pembelajaran guru dapat membantu peserta didik mendapatkan informasi, ide,keterampilan, cara berfikir, dan mengekspresikan ide. Model pembelajaran berfungsi pula sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para guru dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar. 




Nana Sudjana (2010) mengemukakan model mengajar pemecahan masalah (problem solving) merupakan model yang mengandung aktivitas belajar peserta didik cukup tinggi. Model ini tepat digunakan untuk mengajarkan konsep dan prinsip. Aktivitas mental yang dapat dijangkau melalui model ini antara lain mengingat, mengenal, menjelaskan, membedakanm menyimpulkan, menerapkan, menyintesis, menilai dan meramalkan. Model pemecahan masalah ini menitikberatkan pada aktivitas belajar peserta didik dalam memecahkan masalah, baik individual maupun kelompok. Akivitas peserta didik dimulai dengan mengidentifikasi masalah, kemudian mencari alternatif pemecahan masalah, menilai setiap alternatif pemecahan masalah, dan menarik kesimpulan alternatif yang tepat sebagai jawaban dari masalah tersebut. Mengidentifikasi masalah adalah menemukan persoalan dari konsep – konsep dan bahan pengajaran yang disampaikan guru, kemudian merumuskannya dalam bentuk pertanyaan. Alternatif pemecahan masalah adalah mengkaji jawaban pertanyaan dari berbagai sumber, yaitu buku pelajaran, pengalaman, fakta yang ada dan sumber lainnya. Menilai alternatif pemecahan masalah berarti mempertimbangkan jawaban yang paling tepat diantara alternative yang ada, menarik kesimulan artinya merumuskan jawaban masalah yang telah dpiih berdasarkan penilaian setiap alternative.


Gedge (dalam Made Wena, 2009) , mendifinisikan pemecahan masalah sebagai proses untuk menemukan kombinasi dari sejumlah aturan dalam upaya mengatasi situasi baru. Pemecahan masalah tidak sekedar menerapkan aturan –aturan yang telah ada dari kegiatan belajar terlebih dahulu, namun lebih dari itu yaitu suau proses untuk menghasilkan suatu aturan ang memiliki tingkat lebih tinggi. 


Kemampuan pemecahan masalah sangat penting dimiliki seorang peserta didik untuk masa depannya. Aktivitas pembelajaran pada umumnya tidak hanya difokuskan pada upaya mendapatkan pengetahuan sebanyak – banyaknya melainkan juga bagaimana cara menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh untuk menghadapi situasi baru atau memecahkan masalah – masalah khusus yang ada kaitannya dengan bidang studi yang dipelajari. Suharsono ( dalam Made Wena, 2009 : 53) 


Model penyelesaian masalah (problem solving) menurut J. Dewey dalam Wina Sanjaya (2002:215) dirangkum kedalam enam tahapan yaitu :
  • Merumuskan masalah, yaitu langkah peserta didik menentukan beberapa masalah yang akan dipecahkan. 
  • Menganalisis masalah, yaitu langkah peserta didik meninjau masalah denganberpikir secara kritis dari berbagai sudut pandang.
  • Merumuskan hipotesis, yaitu langkah peserta didik merumuskan berbagai kemungkinan pemecahan sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.
  • Mengumpulkan data, yaitu langkah peserta didik mencari dan menggambarkan informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah.
  • Pengujian hipotesis, yaitu langkah peserta didik mengambil atau merumuskan kesimpulan sesuai dengan penerimaan dan penolakan hipotesis yang diajukan. 
  • Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah, yaitu langkah peserta didik menggambar rekomendasi yang dapat dilakukan sesuai rumusan hasil pengujian hipotesis dan rumusan kesimpulan.

Model pembelajaran problem solving di dasarkan atas langkah berpikir ilmiah. Dikatakan langkah berpikir ilmiah karena menempuh alur – alur berpikir yang jelas, logis, dan sistematis. Model pembelajaran ini sangat tepat sekali diterapkan pada pembelajaran yang bersifat ekperimental, penelitan dan sejenisnya, dimana peserta didik diminta untuk membuktikan dugaan – dugaan berdasarkan data dan informasi yag telah diperolehnya. Dalam prakteknya model pembelajaran pemecahan masalah (problem solving) memiliki langkah – langkah sebagai berikut : (1) merumuskan masalah, (2) Membuat hipotesis dugan jawaban masalah, (3) Mengumpulka data, (4) Menguji hipotesis, (5) Menarik kesimpulan, dan di akhi dengan (6) Peneraan atau aplikasi (Nana Sudjana 1996).


Nana Sudjana (1996) menyatakan ada beberapa cara untuk melakukan pengujian dugaan sementara pada model pembelajaran pemecahan masalah ( Problem Solving ), antara lain sebagai berikut : 
  • Setiap kelompok diberikan bahan – bahan tertulis misalnya buku atau sumber – sumber lainya yang berkaitan dengan konsep, prinsip, hokum dan kaidah yang telah dijelaskan. Dengan bahan – bahan tersebut peserta didik diminta menggali keterangan lebih lanjut yang berkaiatan dengan masalah dan dugaan jawaban yang telah ditetapkan.
  • Setiap peserta didik diberikan kesempatan untuk melakukan percobaan atau praktikum untuk membuktikan benar atau tidaknya dugaan sementara. Cara ini cocok sekali untuk mata pelajaran IPA yang memungkinkan banyak melakukan kegiatan percobaan.
  • Kelompok peserta didik diberikan kesempatan untuk melakukan praktek lapangan di luar ruangan kelas. Misalnya mengamati proses, dialog, wawancara, mempelajari kejadian untuk mencari informasi yang diperlukan untuk menguji kebenaran jawaban sementara. 

Setiap model pembelajaran pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, berikut ini merupakan kelebihan menggunakan model pembelajaran Problem solving :
  • Peserta didik memperoleh pengalaman praktis, baik di labratorium maupun di lapangan.
  • Kegiatan pembelajaran lebih menarik dan tidak membosankan karena tidak terikat di dalam kelas.
  • Bahan teori lebih dipahami dan dihayati peserta didik karena teori disertai dengan praktek.
  • Peserta didik dapat memiliki pengalaman lebih banyak dikarenakan memperoleh berbagai sumber baik tertulis maupun tidak tertulis.
  • Interaksi sosial antar peserta didik lebih banyak terjadi karena dalam pelaksanaannya setiap langkah pembelajaran ini berlangsung di dalam kelompok.
  • Peserta didik belajar melakukan analisis dan sintesis secara stimulant untuk memperoleh data atau menguji jawaban sementara berdasarkandata dan informasi yang telah dieroleh sebelumnya. 
  • Membiasakan peserta didik berpikir logis dan sistematis dalam pemecahan masalah. 


Selain memiliki beberapa kelebihan model pembelajaran pemecahan masalah (problem solving) juga memiliki beberapa kekurangan. Kekurangan dari model problem solving yang dimaksud adalah sebagai berikut : 
  • Membutuhkan sumber – sumber, sarana, dan waktu yang cukup untuk kegiatan belajar peserta didik.
  • Kegiatan pembelajaran harus di bawah kendali dan control guru, karna apabila tidak hal tersebut dapat beresiko bagi peserta didik, misalnya keselamatan kerja di dalam laboratorium.
  • Apabila masalah yang akan dipecahkan kurang berbobot, maka usaha para peserta didik asal – asalan sehingga cenderung untuk menerima dugaan atau jawaban sementara.


Dari beberapa pendapat para ahli maka dapat disimpulkan model problem solving adalah model pembelajaran yang tidak hanya menitik beratkan pada kegiatan kognitif namun juga bagaimana menerapkan hasil kegiatan kognitif tersebut, model ini memiliki 6 sintaks yaitu, (1) merumuskan masalah, (2) Membuat hipotesis dugaan jawaban masalah, (3) Mengumpulka data, (4) Menguji hipotesis, (5) Menarik kesimpulan, dan di akhi dengan (6) Peneraan atau aplikasi.


Sumber:
Nana Sudjana 2010. Dasar-dasar Proses Belajar, Sinar Baru Bandung.


Sekian uraian tentang Pengertian Model Problem Solving Menurut Para Ahli, semoga bermafaat..!

Wednesday, August 10, 2022

Pengertian Teks Eksplanasi Menurut Para Ahli

Pengertian Teks Eksplanasi Menurut Para Ahli

Pengertian Teks Eksplanasi 

Teks eksplanasi merupakan salah satu pemebalajran yang terdapat di kelas VIII Sekolah Menengah Pertama. Tujuan pembelajaran teks ekplanasi adalah agar peserta didik mampu mengetahui bagaimana proses terjadinya peristiwa dan mampu membuat sebuah teks eksplanasi. 

Terdapat beberapa ahli yang memaparkan mengenai pengertian teks eksplanasi. 

Isnatun dan Farida (2013.) menyatakan, “Teks eksplanasi adalah teks yang menjelaskan tentang proses terjadinya atau terbentuknya suatu fenomena alam atau sosial”. Berdasarkan pemaparan tersebut, teks eksplanasi adalah teks yang menjelaskan tentang terjadinya suatu fenomena dari proses awal hingga akhir. Artinya, siswa perlu mengetahui bagaimana terjadinya suatu fenomena di alam sekitarnya.

Kosasih (2008) menyatakan, “Teks eksplanasi adalah teks yang menyajikan tentang fenomena alam yang bersifat informatif dan faktual”. Berdasarkan pemaparan tersebut, teks eksplanasi harus bersifat informatif dan faktual. Alasan teks eksplanasi bersifat informatif dan faktual adalah agar teks eksplanasi tersebut memiliki manfaat bagi pembaca dan dapat terpercaya. 


Restuti (2014) menyatakan, “Teks eksplanasi adalah teks yang menerangkan atau menjelaskan mengenai proses atau peristiwa alam maupun sosial”. Maksud dari pernyataan restuti yaitu teks eksplanasi memiliki pola penyajian menerangkan atau menjelaskan suatu terjadinya proses peristiwa atau fenomena. Artinya, setiap bagian proses fenomena harus memiliki penjelasan yang tepat. Sehingga penyajian penulisan teks eksplanasi dapat mudah dikenali oleh pembaca. 


Priyatni (2014) menyatakan, “Teks ekplanasi adalah teks yang berisiskan penjelasan tentang proses yang berhubungan dengan fenomena alam, sosial, budaya dan lainnya”. Artinya, sebuah teks eksplanasi harus berisikan proses atau peristiwa fenomena-fenomena yang terjadi dilingkungan peserta didik, seperti fenomena banjir, gempa bmi, kebakaran hutan, gunung meletus. 


Pardiyono (2007) menyatakan, “Teks eksplanasi menjelaskan tentang proses terjadinya atau terbentuknya suatu fenomena alam atau sosial”. Artinya, teks eksplanasi memaparkan tentang suatu proses peristiwa alam maupun sosial sesuai dengan fakta di kenyataannya. Berdasarkan hal tersebut, proses penyajian teks eksplanasi dapat disajikan sesuai kenyataan yang terjadi dengan data dan informasi yang terjadi sesuai kenyataan.


Berdasarkan ahli di atas dapat disimpulkan, teks eksplanasi adalah suatu teks yang memaparkan proses terjadinya fenomena alam, fenomena sosial, dan fenomena budaya yang dipaparkan secara sistematis kejadiannya dengan sajian yang informatif dan faktual. Maka peserta didik harus mampu menyajikan sebuah teks eksplanasi yang memiliki pola sebab-akibat, sajian data dan informasi yang akurat. 




Struktur Teks Eksplanasi 



Mahsun (2014) menyatakan, “Teks eksplanasi disusun dengan struktur yang terdiri atau bagian-bagian yang memperlihatkan pernyataan umum (pembuka), deretan penjelas dan interpretasi atau penutup”. 
  1. Pernyataan umum (pembuka) Berisi tentang penjelasan umum mengenai fenomena yang akan dibahas, dapat berupa pengenalan fenomena tersebut atau penjelasannya. Penjelasan dalam teks eksplanasi berupa gambaran secara umum tentang apa, siapa, mengepa, kapan, dimana, dan bagaimana proses peristiwa tersebut dapat terjadi. 
  2. Deretan penjelas Berisi tentang penjelasan yang mendeskripsikan dan merincikan penyebab dan akibat dari peristiwa tersebut. 
  3. Interpretasi Berupa tanggapan maupun mengambil kesimpulan atau pernyataan yang ada dalam teks tersebut. 

Artinya, struktur teks eksplanasi tersusun dengan urutan pembuka yang berisikan penjelasan atau pengenalan topik fenomena, deretan penjelas yang memiliki pola penyajian data dan informasi di dalamnya, dan diakhiri dengan interpretasi dengan tujuan pembaca mampu memahami dampak atau proses terjadinya fenomena tersebut. 


Kosasih (2014) menyatakan, Struktur ekapalanasi terdapat beberapa bagian. 
  1. Identifikasi fenomena (phenomnon identification), mengidentifikasi sesuatu yang akan diterangkan. 
  2. Penggambaran rangkaian kejadian (explanation sequence) , merinci proses kejadian yang relevan dengan fenomena yang akan diterangkan sebagai pernyataan atas “bagaimana” atau “mengapa”.se-fase kejadiannya disusun berdasarkan hubungan sebab-akibat 
  3. Rincian yang berpola atas pernyataan “bagaimana” akan melahirkan uraian yang tersusun secara kronologis atau gradual. Dalam hal ini fasefase kejadiannya disusun berdasarkan urutan waktu. 
  4. Rincian yang berpola atas pertanyaan “mengapa” akan melahirkan uraian yang tersusun secara kualitas. Dalal hal ini fa 
  5. Ulasan (review), berupa komentar atau penilaian tentang konsekuensi atas kejadian yang dipaparkan sebelumnya. 

Berdasarkan dari uraian di atas, struktur yang terdapat dalam teks eksplanasi terdapat tiga. Pertama identifikasi fenomena yang akan kita paparkan, seperti pengenalan fenomena. Kedua penggambaran rangkain kejadian fenomena itu terjadi. Ketiga ulasan tentang fenomena yang telah dipaparkan. Pada bagian ini keseluruhan rangkaian isi yang telah disajikan dalam fenomena tersebut disimpulkan dengan sudut pandang penulis. Jika penulisan teks eksplanai sesuai struktur, maka pembaca lebih mudah memahami teks



Sumber:
Isnatun dan Farida. (2013). Mahir Berbahasa Indonesia. Bogor: Yudhistira.


Sekian uraian tentang Pengertian Teks Eksplanasi Menurut Para Ahli, semoga bermanfaat...!

Monday, July 25, 2022

Pengertian Analisis Data Kualitatif

Pengertian Analisis Data Kualitatif

Pengertian Analisis Data Kualitatif

Analysis is process of resolving data into its constituent component to reveal its characteristic elements and structure. Analisis merupakan proses pemecahan data menjadi komponen-komponen yang lebih kecil berdasarkan elemen dan struktur tertentu. 

Menurut Bogdan dan Biglen dalam Moleong, Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang datapat dikelolah, mensintesiskan, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.

Menurut Seiddel dalam Burhan Bungin mengatakan bahwa analisis data kualitatif prosesnya sebagai berikut:
  1. Proses mencatat yang menghasilakan catatan lapangan, dengan hal itu diberi kode agar sumber datanya tetap dapat ditelusuri.
  2. Mengumpulkan, memilah-milah, mengklasifikasikan, menyintesiskan, membuat ikhtisar dan membuat indeksnya.
  3. Berfikir, dengan jalan membuat agar kategori data itu mempunyai makna, mencari dan menemukan pola dan hubungan-hubungan.
  4. Membuat temuan-temuan umum.
Adapun tujuan analisis data kualitatif adalah mencari makna dibalik data yang melalui pengakuan subyek pelakukanya. Peneliti dihadapkan kepada berbagai objek penelitian yang semuanya mengahasilkan data yang membutuhkan analisis. Data yang didapat dari obyek penelitian memiliki kaitan yang masih belum jelas. Oleh karenanya, analisis diperlukan untuk mengungkap kaitan tersebut secara jelas sehingga menjadi pemahaman umum.


Analisis data kualitatif dilakukan secara induktif, yaitu penelitian kualitatif tidak dimulai dari deduksi teori tetapi dimulai dari fakta empiris. Peneliti terjun ke lapangan, mempelajari, menganalisis, menafsirkan dan menarik kesimpulan dari fenomena yang ada di lapangan. Peneliti dihadapkan kepada data yang diperoleh dari lapangan. Dari data tersebut, peneliti harus menganalisis sehingga menemukan makna yang kemudian makna itulah menjadi hasil penelitian.

Dari beberapa definisi dan tujuan penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa analisis data kualitatif adalah upaya untuk mengungkap makna dari data penelitian dengan cara mengumpulkan data sesuai dengan klasifikasi tertentu.




Metode Analisis Data Kualitatif

Analisis data kualitatif tidak sama dengan analisis kuantitatif yang metode dan prosedurnya sudah pasti dan jelas. Ketajaman analisis data kualitatif tergantung kepada kebiasaan peneliti dalam melakukan penelitian kuantitatif. Peneliti yang sudah terbiasa menggunakan pendekatan ini, biasanya mengulas hasil penelitiannya secara mendalam dan kongkret.


Meskipun analisis kualitatif ini tidak menggunakan teori secara pasti sebagaimana kuantitaif, akan tetapi keabsahan dan kevalidan temuannya juga diakui sejauh peneliti masih menggunakan kaidah-kaidah penelitian. Menurut Patton dalam Kristi Poerwandari, yang harus selalu diingat peneliti adalah bagaimanapun analisis dilakukan, peneliti wajib memonitor dan melaporkan proses dan prosedur-prosedur analisisnya sejujur dan selengkap mungkin.


Analisis kualitatif juga berbeda dengan kuantitatif yang cara analisis dilakukan setelah data terkumpul semua, tetapi analisis kualitatif dilakukan sepanjang penelitian dari awal hingga akhir. Hal ini dilakukan karena, peneliti kualitatif mendapat data yang membutuhkan analisis sejak awal penelitian. Bahkan hasil analisis awal akan menentukan proses penelitian selanjutnya.

Menurut Lexy J. Moleong, proses analisis data kualitatif dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu wawancara, pengamatan yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar foto dan sebagainya. Setelah ditelaah, langkah selanjutnya adalah reduksi data, penyusunan satuan, kategorisasi dan yang terakhir adalah penafsiran data.


Proses analisis data kualitatif yang dikemukakan oleh Moleong diatas sangat rumit dan terjadi tumpang tindih dalam tahapan-tahapannya. Tahapan reduksi data sampai kepada tahapan kategorisasi data menurut hemat penulis merupakan satu kesatuan proses yang bisa dihimpun dalam reduksi data. Karena dalam proses ini, sudah terangkum penyusunan satuan dan kategorisasi data. Oleh karena itu, penulis lebih setuju kalau proses analisis data dilakukan melalui tahapan; reduksi data, penyajian atau display data dan kesimpulan atau Verifikasi. Untuk lebih jelasnya, penulis akan menjelaskan proses analisis tersebut sebagai berikut:


1. Reduksi Data
Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu. Reduksi data bisa dilakukan dengan jalan melakukan abstrakasi. Abstraksi merupakan usaha membuat rangkuman yang inti, proses dan pernyataan-pernyataan yang perlu dijaga sehingga tetap berada dalam data penelitian. Dengan kata lain proses reduksi data ini dilakukan oleh peneliti secara terus menerus saat melakukan penelitian untuk menghasilkan catatan-catatan inti dari data yang diperoleh dari hasil penggalian data.

Dengan demikian, tujuan dari reduksi data ini adalah untuk menyederhanakan data yang diperoleh selama penggalian data di lapangan. Data yang diperoleh dalam penggalian data sudah barang tentu merupakan data yang sangat rumit dan juga sering dijumpai data yang tidak ada kaitannya dengan tema penelitian tetapi data tersebut bercampur baur dengan data yang ada kaitannya dengan penelitian. Maka dengan kondisi data seperti, maka peneliti perlu menyederhanakan data dan membuang data yang tidak ada kaitannya dengan tema penelitian. Sehingga tujuan penelitian tidak hanya untuk menyederhanakan data tetapi juga untuk memastikan data yang diolah itu merupakan data yang tercakup dalam scope penelitian.


2. Penyajian data
Menurut Miles dan Hubermen yang dikutip oleh Muhammad Idrus bahwa: Penyajian data adalah sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan. Langkah ini dilakukan dengan menyajikan sekumpulan informasi yang tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan. hal ini dilakukan dengan alasan data-data yang diperoleh selama proses penelitian kualitatif biasanya berbentuk naratif, sehingga memerlukan penyederhanaan tanpa mengurangi isinya.


Penyajian data dilakukan untuk dapat melihat gambaran keseluruhan atau bagian-bagian tertentu dari gambaran keseluruhan. Pada tahap ini peneliti berupaya mengklasifikasikan dan menyajikan data sesuai dengan pokok permasalahan yang diawali dengan pengkodean pada setiap subpokok permasalahan.


3. Kesimpulan atau verifikasi
Kesimpulan atau verifikasi adalah tahap akhir dalam proses analisa data. Pada bagian ini peneliti mengutarakan kesimpulan dari data-data yang telah diperoleh. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mencari makna data yang dikumpulkan dengan mencari hubungan, persamaan, atau perbedaan. Penarikan kesimpulan bisa dilakukan dengan jalan membandingkan kesesuaian pernyataan dari subyek penelitian dengan makna yang terkandung dengan konsep-konsep dasar dalam penelitian tersebut.

Tahapan-tahapan diatas terutama tahapan reduksi dan penyajian data, tidak melulu terjadi secara beriringan. Akan tetapi kadang setelah dilakukan penyajian data juga membutuhkan reduksi data lagi sebelum ditarik sebuah kesimpulan. Tahapan-tahapan diatas bagi penulis tidak termasuk pada metode analisis data tetapi masuk kepada strategi analisis data. Karena, metode sudah paten sedangkan strategi bisa dilakukan dengan keluwesan peniliti dalam menggunkan strategi tersebut. Dengan demikian, kebiasaan peneliti menggunakan metode analisis kualitatif menentukan kualitas analisis dan hasil penelitian kualitatif.


Sumber:
William J. Goode dan Paul K. Hatt, Methods in social research, Kogakusa: McGraw-Hill Book Company, 1981.

H. Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif, Yogyakarta: Rake Sarasin, 1996 http.www.wikipedia/analisisdatakualitatif.


Sekian uraian tentang Pengertian Analisi Data Kualitatif, semoga bermanfaat..!