Kumpulan Pengertian

Kumpulan Pengertian Menurut Para Ahli

Friday, September 23, 2022

Pengertian Dokumentasi Menurut Para Ahli

Pengertian Dokumentasi Menurut Para Ahli

Pengertian Dokumentasi

Pengertaian dokumentasi dari beberapa organisasi antara lain : 
  1. Menurut keperluan perpustakaan khusus, dokumentasi adalah kepustakaan informasi dan bibliografi yang disesuaikan dengan keperluan perpustakaan khusus. 
  2. Menurut mikro reproduksi, dokumentasi adalah reproduksi dokumen dokumen dalam bentuk lebih kecil (mikro reproduksi) reproduksi) khususnya khususnya dalam bentuk microfilm.
  3. Menurut hasil seminar dokumentasi, dokumentasi adalah suatu aktivitas bagi suatu badan yang melayani badan tadi dengan menyajikan hasil pengolahan bahan-bahan dokumentasi yang bermanfaat bagi badan yang mengadakan dokumentasi 
  4. Menurut FID (Federation Internasional Documentation) dokumentasi adalah pekerjaan pengumpulan, penyusunan, dan penyebarluasan dokumen dari segala macam jenis lapangan aktivitas manusia. 
  5. Menurut NIDER ( Nederlanse Institutvoor Docomentatie Registratur), Dokumentasi adalah member keterangan-keterangan yang didasarkan pada bahan-bahan yang ada diperpustakaan dan pemberitahuan tentang literature.

Beberapa pemgertian tentang Dokumentasi dari sumber lainnya Dokumentasi adalah : 
  • Semua kegiatan yang berkaitan dengan photo, dan penyimpanan photo.
  • Pengumpulan, pengolahan, dan penyimpanan informasi dalam bidang pengetahuan. kumpulan bahan atau dokumen yang dapat digunakan sebagai asas bagi sesuatu kejadian, penghasilan sesuatu terbitan.
  • Arsip kliping surat, photo-photo dan bahan referensinya dapat digunakan sewaktu-waktu untuk melengkapi berita atau laporan dalam perusahaan.
  • penyimpanan bahan-bahan desktipsi tertulis dari program komputer.
  • Penyediaan atau pengumpulan bukti atau keterangan. umumnya berarti pencarian , penyelidikan, pengumpulan,, penyusunan, pengawetan, pemakaian, dan penyediaan. Arsip kliping, surat kabar, foto-foto dan bahan referensi yang dapat digunakan sewaktu-waktu untuk melengkapi berita atau karangan dalam Persusahaan



Jenis-Jenis Dokumen

1. Jenis-jenis dokumen berdasarkan kepentingannya 
a. Dokumen pribadi
Dokumen yang menyangkut kepentingan perorangan. 
Contoh : Akta Kelahiran, KTP, SIM, Ijazah. 

b. Dokumen niaga
Dokumen yang berkaitan dengan perniagaan atau transaksi jual beli. 
Contoh : cek, nota, kwitansi. 

c. Dokumen pemerintah 
Dokumen yang berisi tentang informasi ketatanegaraan suatu pemerintahan. Contoh : UU, Keppres, Peraturan pemerintah. 

2. Jenis-jenis dokumen berdasarkan bentuk fisiknya 
a. Dokumen literer (di bidang perpustakaan)
Dokumen yang ada karena dicetak, ditulis, digambar atau direkam.
Contoh : buku, majalah, film. 

b. Dokumen korporil (di bidang permuseuman) 
Dokumen yang berupa benda bersejarah. 
Contoh : patung, fosil, uang kuno.

c. Dokumen privat (di bidang kearsipan) 
Dokumen yang berupa surat/arsip 
Contoh : surat niaga, surat dinas, laporan


3. Jenis-jenis dokumen berdasarkan fungsinya 
a. Dokumen dinamis 
Dokumen yang dipakai secara langsung dalam proses penyelesaian pekerjaan kantor. Ada tiga macam dokumen dinamis : 
  • Dokumen dinamis aktif adalah dokumen yang dipakai secara terus menerus dalam proses penyelenggaraan pekerjaan kantor
  •  Dokumen semiaktif adalah dokumen yang penggunaannya sudah menurun
  • Dokumen inaktif adalah dokumen yang sudah sangat jarang digunakan 
b. statis 
Dokumen yang tidak secara langsung dipergunakan dalam pekerjaan kantor.


4. Dokumen Menurut Sifatnya 
a. Dokumen Tekstual 
Dokumen tekstual adalah dokumen yang menyajikan informasi dalam bentuk tertulis. Misalnya : majalah, buku, catalog, surat kabar dll. 
b. Dokumen Nontekstual 
Dokumen nontekstual adalah dokumen yang berisi beberapa teks. misal: peta, grafik, gambar, rekaman dan sejenisnya.


5. Dokumen Menurut Jenisnya 
a. Dokumen Fisik 
Dokumen fisik adalah dokumen yang menyangkut materi ukuran, berat, tata letak, sarana prasarana, dan sebagainya. Dengan kata lain dokumen jenis ini berupa berkas surat-surat. 
b. Dokumen Intelektual 
Dokumen intelektual adalah dokumen yang mengacu kepada tujuan, isi subjek, sumber, metode penyebaran, cara memperoleh, keaslian dokumen dan sebagainya. 


6. Dokumen Menurut Dokumentasi 
a. Dokumen Primer 
Adalah dokumen yang berisi informasi tentang hasil-hasil penelitian asli atau langsung dari sumbernya. 
Contohnya: paten penelitian, laporan, disertasi. 
b. Dokumen Sekunder 
Adalah dokumen yang berisi informasi tentang literatur primer. Pada umumnya dokumen sekunder disebut dokumen bibliografi. 
c. Dokumen Tersier 
Adalah dokumen yang berisi informasi tentang literatur sekunder, misalnya: buku, teks panduan literature.



Sumber:
Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: CV Alfabeta. 


Sekian uraian tentang Pengertian Dokumentasi Menurut Para Ahli, semoga bermaanfaat.

Thursday, August 11, 2022

Pengertian Model Problem Solving Menurut Para Ahli

Pengertian Model Problem Solving Menurut Para Ahli

Pengertian Model Problem Solving

Menurut Agus Suprijono (2011) model pembelajaran ialah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran dikelas maupun tutorial. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang akan digunakan, termasuk didalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas. Melalui model pembelajaran guru dapat membantu peserta didik mendapatkan informasi, ide,keterampilan, cara berfikir, dan mengekspresikan ide. Model pembelajaran berfungsi pula sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para guru dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar. 




Nana Sudjana (2010) mengemukakan model mengajar pemecahan masalah (problem solving) merupakan model yang mengandung aktivitas belajar peserta didik cukup tinggi. Model ini tepat digunakan untuk mengajarkan konsep dan prinsip. Aktivitas mental yang dapat dijangkau melalui model ini antara lain mengingat, mengenal, menjelaskan, membedakanm menyimpulkan, menerapkan, menyintesis, menilai dan meramalkan. Model pemecahan masalah ini menitikberatkan pada aktivitas belajar peserta didik dalam memecahkan masalah, baik individual maupun kelompok. Akivitas peserta didik dimulai dengan mengidentifikasi masalah, kemudian mencari alternatif pemecahan masalah, menilai setiap alternatif pemecahan masalah, dan menarik kesimpulan alternatif yang tepat sebagai jawaban dari masalah tersebut. Mengidentifikasi masalah adalah menemukan persoalan dari konsep – konsep dan bahan pengajaran yang disampaikan guru, kemudian merumuskannya dalam bentuk pertanyaan. Alternatif pemecahan masalah adalah mengkaji jawaban pertanyaan dari berbagai sumber, yaitu buku pelajaran, pengalaman, fakta yang ada dan sumber lainnya. Menilai alternatif pemecahan masalah berarti mempertimbangkan jawaban yang paling tepat diantara alternative yang ada, menarik kesimulan artinya merumuskan jawaban masalah yang telah dpiih berdasarkan penilaian setiap alternative.


Gedge (dalam Made Wena, 2009) , mendifinisikan pemecahan masalah sebagai proses untuk menemukan kombinasi dari sejumlah aturan dalam upaya mengatasi situasi baru. Pemecahan masalah tidak sekedar menerapkan aturan –aturan yang telah ada dari kegiatan belajar terlebih dahulu, namun lebih dari itu yaitu suau proses untuk menghasilkan suatu aturan ang memiliki tingkat lebih tinggi. 


Kemampuan pemecahan masalah sangat penting dimiliki seorang peserta didik untuk masa depannya. Aktivitas pembelajaran pada umumnya tidak hanya difokuskan pada upaya mendapatkan pengetahuan sebanyak – banyaknya melainkan juga bagaimana cara menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh untuk menghadapi situasi baru atau memecahkan masalah – masalah khusus yang ada kaitannya dengan bidang studi yang dipelajari. Suharsono ( dalam Made Wena, 2009 : 53) 


Model penyelesaian masalah (problem solving) menurut J. Dewey dalam Wina Sanjaya (2002:215) dirangkum kedalam enam tahapan yaitu :
  • Merumuskan masalah, yaitu langkah peserta didik menentukan beberapa masalah yang akan dipecahkan. 
  • Menganalisis masalah, yaitu langkah peserta didik meninjau masalah denganberpikir secara kritis dari berbagai sudut pandang.
  • Merumuskan hipotesis, yaitu langkah peserta didik merumuskan berbagai kemungkinan pemecahan sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.
  • Mengumpulkan data, yaitu langkah peserta didik mencari dan menggambarkan informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah.
  • Pengujian hipotesis, yaitu langkah peserta didik mengambil atau merumuskan kesimpulan sesuai dengan penerimaan dan penolakan hipotesis yang diajukan. 
  • Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah, yaitu langkah peserta didik menggambar rekomendasi yang dapat dilakukan sesuai rumusan hasil pengujian hipotesis dan rumusan kesimpulan.

Model pembelajaran problem solving di dasarkan atas langkah berpikir ilmiah. Dikatakan langkah berpikir ilmiah karena menempuh alur – alur berpikir yang jelas, logis, dan sistematis. Model pembelajaran ini sangat tepat sekali diterapkan pada pembelajaran yang bersifat ekperimental, penelitan dan sejenisnya, dimana peserta didik diminta untuk membuktikan dugaan – dugaan berdasarkan data dan informasi yag telah diperolehnya. Dalam prakteknya model pembelajaran pemecahan masalah (problem solving) memiliki langkah – langkah sebagai berikut : (1) merumuskan masalah, (2) Membuat hipotesis dugan jawaban masalah, (3) Mengumpulka data, (4) Menguji hipotesis, (5) Menarik kesimpulan, dan di akhi dengan (6) Peneraan atau aplikasi (Nana Sudjana 1996).


Nana Sudjana (1996) menyatakan ada beberapa cara untuk melakukan pengujian dugaan sementara pada model pembelajaran pemecahan masalah ( Problem Solving ), antara lain sebagai berikut : 
  • Setiap kelompok diberikan bahan – bahan tertulis misalnya buku atau sumber – sumber lainya yang berkaitan dengan konsep, prinsip, hokum dan kaidah yang telah dijelaskan. Dengan bahan – bahan tersebut peserta didik diminta menggali keterangan lebih lanjut yang berkaiatan dengan masalah dan dugaan jawaban yang telah ditetapkan.
  • Setiap peserta didik diberikan kesempatan untuk melakukan percobaan atau praktikum untuk membuktikan benar atau tidaknya dugaan sementara. Cara ini cocok sekali untuk mata pelajaran IPA yang memungkinkan banyak melakukan kegiatan percobaan.
  • Kelompok peserta didik diberikan kesempatan untuk melakukan praktek lapangan di luar ruangan kelas. Misalnya mengamati proses, dialog, wawancara, mempelajari kejadian untuk mencari informasi yang diperlukan untuk menguji kebenaran jawaban sementara. 

Setiap model pembelajaran pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, berikut ini merupakan kelebihan menggunakan model pembelajaran Problem solving :
  • Peserta didik memperoleh pengalaman praktis, baik di labratorium maupun di lapangan.
  • Kegiatan pembelajaran lebih menarik dan tidak membosankan karena tidak terikat di dalam kelas.
  • Bahan teori lebih dipahami dan dihayati peserta didik karena teori disertai dengan praktek.
  • Peserta didik dapat memiliki pengalaman lebih banyak dikarenakan memperoleh berbagai sumber baik tertulis maupun tidak tertulis.
  • Interaksi sosial antar peserta didik lebih banyak terjadi karena dalam pelaksanaannya setiap langkah pembelajaran ini berlangsung di dalam kelompok.
  • Peserta didik belajar melakukan analisis dan sintesis secara stimulant untuk memperoleh data atau menguji jawaban sementara berdasarkandata dan informasi yang telah dieroleh sebelumnya. 
  • Membiasakan peserta didik berpikir logis dan sistematis dalam pemecahan masalah. 


Selain memiliki beberapa kelebihan model pembelajaran pemecahan masalah (problem solving) juga memiliki beberapa kekurangan. Kekurangan dari model problem solving yang dimaksud adalah sebagai berikut : 
  • Membutuhkan sumber – sumber, sarana, dan waktu yang cukup untuk kegiatan belajar peserta didik.
  • Kegiatan pembelajaran harus di bawah kendali dan control guru, karna apabila tidak hal tersebut dapat beresiko bagi peserta didik, misalnya keselamatan kerja di dalam laboratorium.
  • Apabila masalah yang akan dipecahkan kurang berbobot, maka usaha para peserta didik asal – asalan sehingga cenderung untuk menerima dugaan atau jawaban sementara.


Dari beberapa pendapat para ahli maka dapat disimpulkan model problem solving adalah model pembelajaran yang tidak hanya menitik beratkan pada kegiatan kognitif namun juga bagaimana menerapkan hasil kegiatan kognitif tersebut, model ini memiliki 6 sintaks yaitu, (1) merumuskan masalah, (2) Membuat hipotesis dugaan jawaban masalah, (3) Mengumpulka data, (4) Menguji hipotesis, (5) Menarik kesimpulan, dan di akhi dengan (6) Peneraan atau aplikasi.


Sumber:
Nana Sudjana 2010. Dasar-dasar Proses Belajar, Sinar Baru Bandung.


Sekian uraian tentang Pengertian Model Problem Solving Menurut Para Ahli, semoga bermafaat..!

Wednesday, August 10, 2022

Pengertian Teks Eksplanasi Menurut Para Ahli

Pengertian Teks Eksplanasi Menurut Para Ahli

Pengertian Teks Eksplanasi 

Teks eksplanasi merupakan salah satu pemebalajran yang terdapat di kelas VIII Sekolah Menengah Pertama. Tujuan pembelajaran teks ekplanasi adalah agar peserta didik mampu mengetahui bagaimana proses terjadinya peristiwa dan mampu membuat sebuah teks eksplanasi. 

Terdapat beberapa ahli yang memaparkan mengenai pengertian teks eksplanasi. 

Isnatun dan Farida (2013.) menyatakan, “Teks eksplanasi adalah teks yang menjelaskan tentang proses terjadinya atau terbentuknya suatu fenomena alam atau sosial”. Berdasarkan pemaparan tersebut, teks eksplanasi adalah teks yang menjelaskan tentang terjadinya suatu fenomena dari proses awal hingga akhir. Artinya, siswa perlu mengetahui bagaimana terjadinya suatu fenomena di alam sekitarnya.

Kosasih (2008) menyatakan, “Teks eksplanasi adalah teks yang menyajikan tentang fenomena alam yang bersifat informatif dan faktual”. Berdasarkan pemaparan tersebut, teks eksplanasi harus bersifat informatif dan faktual. Alasan teks eksplanasi bersifat informatif dan faktual adalah agar teks eksplanasi tersebut memiliki manfaat bagi pembaca dan dapat terpercaya. 


Restuti (2014) menyatakan, “Teks eksplanasi adalah teks yang menerangkan atau menjelaskan mengenai proses atau peristiwa alam maupun sosial”. Maksud dari pernyataan restuti yaitu teks eksplanasi memiliki pola penyajian menerangkan atau menjelaskan suatu terjadinya proses peristiwa atau fenomena. Artinya, setiap bagian proses fenomena harus memiliki penjelasan yang tepat. Sehingga penyajian penulisan teks eksplanasi dapat mudah dikenali oleh pembaca. 


Priyatni (2014) menyatakan, “Teks ekplanasi adalah teks yang berisiskan penjelasan tentang proses yang berhubungan dengan fenomena alam, sosial, budaya dan lainnya”. Artinya, sebuah teks eksplanasi harus berisikan proses atau peristiwa fenomena-fenomena yang terjadi dilingkungan peserta didik, seperti fenomena banjir, gempa bmi, kebakaran hutan, gunung meletus. 


Pardiyono (2007) menyatakan, “Teks eksplanasi menjelaskan tentang proses terjadinya atau terbentuknya suatu fenomena alam atau sosial”. Artinya, teks eksplanasi memaparkan tentang suatu proses peristiwa alam maupun sosial sesuai dengan fakta di kenyataannya. Berdasarkan hal tersebut, proses penyajian teks eksplanasi dapat disajikan sesuai kenyataan yang terjadi dengan data dan informasi yang terjadi sesuai kenyataan.


Berdasarkan ahli di atas dapat disimpulkan, teks eksplanasi adalah suatu teks yang memaparkan proses terjadinya fenomena alam, fenomena sosial, dan fenomena budaya yang dipaparkan secara sistematis kejadiannya dengan sajian yang informatif dan faktual. Maka peserta didik harus mampu menyajikan sebuah teks eksplanasi yang memiliki pola sebab-akibat, sajian data dan informasi yang akurat. 




Struktur Teks Eksplanasi 



Mahsun (2014) menyatakan, “Teks eksplanasi disusun dengan struktur yang terdiri atau bagian-bagian yang memperlihatkan pernyataan umum (pembuka), deretan penjelas dan interpretasi atau penutup”. 
  1. Pernyataan umum (pembuka) Berisi tentang penjelasan umum mengenai fenomena yang akan dibahas, dapat berupa pengenalan fenomena tersebut atau penjelasannya. Penjelasan dalam teks eksplanasi berupa gambaran secara umum tentang apa, siapa, mengepa, kapan, dimana, dan bagaimana proses peristiwa tersebut dapat terjadi. 
  2. Deretan penjelas Berisi tentang penjelasan yang mendeskripsikan dan merincikan penyebab dan akibat dari peristiwa tersebut. 
  3. Interpretasi Berupa tanggapan maupun mengambil kesimpulan atau pernyataan yang ada dalam teks tersebut. 

Artinya, struktur teks eksplanasi tersusun dengan urutan pembuka yang berisikan penjelasan atau pengenalan topik fenomena, deretan penjelas yang memiliki pola penyajian data dan informasi di dalamnya, dan diakhiri dengan interpretasi dengan tujuan pembaca mampu memahami dampak atau proses terjadinya fenomena tersebut. 


Kosasih (2014) menyatakan, Struktur ekapalanasi terdapat beberapa bagian. 
  1. Identifikasi fenomena (phenomnon identification), mengidentifikasi sesuatu yang akan diterangkan. 
  2. Penggambaran rangkaian kejadian (explanation sequence) , merinci proses kejadian yang relevan dengan fenomena yang akan diterangkan sebagai pernyataan atas “bagaimana” atau “mengapa”.se-fase kejadiannya disusun berdasarkan hubungan sebab-akibat 
  3. Rincian yang berpola atas pernyataan “bagaimana” akan melahirkan uraian yang tersusun secara kronologis atau gradual. Dalam hal ini fasefase kejadiannya disusun berdasarkan urutan waktu. 
  4. Rincian yang berpola atas pertanyaan “mengapa” akan melahirkan uraian yang tersusun secara kualitas. Dalal hal ini fa 
  5. Ulasan (review), berupa komentar atau penilaian tentang konsekuensi atas kejadian yang dipaparkan sebelumnya. 

Berdasarkan dari uraian di atas, struktur yang terdapat dalam teks eksplanasi terdapat tiga. Pertama identifikasi fenomena yang akan kita paparkan, seperti pengenalan fenomena. Kedua penggambaran rangkain kejadian fenomena itu terjadi. Ketiga ulasan tentang fenomena yang telah dipaparkan. Pada bagian ini keseluruhan rangkaian isi yang telah disajikan dalam fenomena tersebut disimpulkan dengan sudut pandang penulis. Jika penulisan teks eksplanai sesuai struktur, maka pembaca lebih mudah memahami teks



Sumber:
Isnatun dan Farida. (2013). Mahir Berbahasa Indonesia. Bogor: Yudhistira.


Sekian uraian tentang Pengertian Teks Eksplanasi Menurut Para Ahli, semoga bermanfaat...!

Monday, July 25, 2022

Pengertian Analisis Data Kualitatif

Pengertian Analisis Data Kualitatif

Pengertian Analisis Data Kualitatif

Analysis is process of resolving data into its constituent component to reveal its characteristic elements and structure. Analisis merupakan proses pemecahan data menjadi komponen-komponen yang lebih kecil berdasarkan elemen dan struktur tertentu. 

Menurut Bogdan dan Biglen dalam Moleong, Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang datapat dikelolah, mensintesiskan, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.

Menurut Seiddel dalam Burhan Bungin mengatakan bahwa analisis data kualitatif prosesnya sebagai berikut:
  1. Proses mencatat yang menghasilakan catatan lapangan, dengan hal itu diberi kode agar sumber datanya tetap dapat ditelusuri.
  2. Mengumpulkan, memilah-milah, mengklasifikasikan, menyintesiskan, membuat ikhtisar dan membuat indeksnya.
  3. Berfikir, dengan jalan membuat agar kategori data itu mempunyai makna, mencari dan menemukan pola dan hubungan-hubungan.
  4. Membuat temuan-temuan umum.
Adapun tujuan analisis data kualitatif adalah mencari makna dibalik data yang melalui pengakuan subyek pelakukanya. Peneliti dihadapkan kepada berbagai objek penelitian yang semuanya mengahasilkan data yang membutuhkan analisis. Data yang didapat dari obyek penelitian memiliki kaitan yang masih belum jelas. Oleh karenanya, analisis diperlukan untuk mengungkap kaitan tersebut secara jelas sehingga menjadi pemahaman umum.


Analisis data kualitatif dilakukan secara induktif, yaitu penelitian kualitatif tidak dimulai dari deduksi teori tetapi dimulai dari fakta empiris. Peneliti terjun ke lapangan, mempelajari, menganalisis, menafsirkan dan menarik kesimpulan dari fenomena yang ada di lapangan. Peneliti dihadapkan kepada data yang diperoleh dari lapangan. Dari data tersebut, peneliti harus menganalisis sehingga menemukan makna yang kemudian makna itulah menjadi hasil penelitian.

Dari beberapa definisi dan tujuan penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa analisis data kualitatif adalah upaya untuk mengungkap makna dari data penelitian dengan cara mengumpulkan data sesuai dengan klasifikasi tertentu.




Metode Analisis Data Kualitatif

Analisis data kualitatif tidak sama dengan analisis kuantitatif yang metode dan prosedurnya sudah pasti dan jelas. Ketajaman analisis data kualitatif tergantung kepada kebiasaan peneliti dalam melakukan penelitian kuantitatif. Peneliti yang sudah terbiasa menggunakan pendekatan ini, biasanya mengulas hasil penelitiannya secara mendalam dan kongkret.


Meskipun analisis kualitatif ini tidak menggunakan teori secara pasti sebagaimana kuantitaif, akan tetapi keabsahan dan kevalidan temuannya juga diakui sejauh peneliti masih menggunakan kaidah-kaidah penelitian. Menurut Patton dalam Kristi Poerwandari, yang harus selalu diingat peneliti adalah bagaimanapun analisis dilakukan, peneliti wajib memonitor dan melaporkan proses dan prosedur-prosedur analisisnya sejujur dan selengkap mungkin.


Analisis kualitatif juga berbeda dengan kuantitatif yang cara analisis dilakukan setelah data terkumpul semua, tetapi analisis kualitatif dilakukan sepanjang penelitian dari awal hingga akhir. Hal ini dilakukan karena, peneliti kualitatif mendapat data yang membutuhkan analisis sejak awal penelitian. Bahkan hasil analisis awal akan menentukan proses penelitian selanjutnya.

Menurut Lexy J. Moleong, proses analisis data kualitatif dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu wawancara, pengamatan yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar foto dan sebagainya. Setelah ditelaah, langkah selanjutnya adalah reduksi data, penyusunan satuan, kategorisasi dan yang terakhir adalah penafsiran data.


Proses analisis data kualitatif yang dikemukakan oleh Moleong diatas sangat rumit dan terjadi tumpang tindih dalam tahapan-tahapannya. Tahapan reduksi data sampai kepada tahapan kategorisasi data menurut hemat penulis merupakan satu kesatuan proses yang bisa dihimpun dalam reduksi data. Karena dalam proses ini, sudah terangkum penyusunan satuan dan kategorisasi data. Oleh karena itu, penulis lebih setuju kalau proses analisis data dilakukan melalui tahapan; reduksi data, penyajian atau display data dan kesimpulan atau Verifikasi. Untuk lebih jelasnya, penulis akan menjelaskan proses analisis tersebut sebagai berikut:


1. Reduksi Data
Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu. Reduksi data bisa dilakukan dengan jalan melakukan abstrakasi. Abstraksi merupakan usaha membuat rangkuman yang inti, proses dan pernyataan-pernyataan yang perlu dijaga sehingga tetap berada dalam data penelitian. Dengan kata lain proses reduksi data ini dilakukan oleh peneliti secara terus menerus saat melakukan penelitian untuk menghasilkan catatan-catatan inti dari data yang diperoleh dari hasil penggalian data.

Dengan demikian, tujuan dari reduksi data ini adalah untuk menyederhanakan data yang diperoleh selama penggalian data di lapangan. Data yang diperoleh dalam penggalian data sudah barang tentu merupakan data yang sangat rumit dan juga sering dijumpai data yang tidak ada kaitannya dengan tema penelitian tetapi data tersebut bercampur baur dengan data yang ada kaitannya dengan penelitian. Maka dengan kondisi data seperti, maka peneliti perlu menyederhanakan data dan membuang data yang tidak ada kaitannya dengan tema penelitian. Sehingga tujuan penelitian tidak hanya untuk menyederhanakan data tetapi juga untuk memastikan data yang diolah itu merupakan data yang tercakup dalam scope penelitian.


2. Penyajian data
Menurut Miles dan Hubermen yang dikutip oleh Muhammad Idrus bahwa: Penyajian data adalah sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan. Langkah ini dilakukan dengan menyajikan sekumpulan informasi yang tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan. hal ini dilakukan dengan alasan data-data yang diperoleh selama proses penelitian kualitatif biasanya berbentuk naratif, sehingga memerlukan penyederhanaan tanpa mengurangi isinya.


Penyajian data dilakukan untuk dapat melihat gambaran keseluruhan atau bagian-bagian tertentu dari gambaran keseluruhan. Pada tahap ini peneliti berupaya mengklasifikasikan dan menyajikan data sesuai dengan pokok permasalahan yang diawali dengan pengkodean pada setiap subpokok permasalahan.


3. Kesimpulan atau verifikasi
Kesimpulan atau verifikasi adalah tahap akhir dalam proses analisa data. Pada bagian ini peneliti mengutarakan kesimpulan dari data-data yang telah diperoleh. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mencari makna data yang dikumpulkan dengan mencari hubungan, persamaan, atau perbedaan. Penarikan kesimpulan bisa dilakukan dengan jalan membandingkan kesesuaian pernyataan dari subyek penelitian dengan makna yang terkandung dengan konsep-konsep dasar dalam penelitian tersebut.

Tahapan-tahapan diatas terutama tahapan reduksi dan penyajian data, tidak melulu terjadi secara beriringan. Akan tetapi kadang setelah dilakukan penyajian data juga membutuhkan reduksi data lagi sebelum ditarik sebuah kesimpulan. Tahapan-tahapan diatas bagi penulis tidak termasuk pada metode analisis data tetapi masuk kepada strategi analisis data. Karena, metode sudah paten sedangkan strategi bisa dilakukan dengan keluwesan peniliti dalam menggunkan strategi tersebut. Dengan demikian, kebiasaan peneliti menggunakan metode analisis kualitatif menentukan kualitas analisis dan hasil penelitian kualitatif.


Sumber:
William J. Goode dan Paul K. Hatt, Methods in social research, Kogakusa: McGraw-Hill Book Company, 1981.

H. Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif, Yogyakarta: Rake Sarasin, 1996 http.www.wikipedia/analisisdatakualitatif.


Sekian uraian tentang Pengertian Analisi Data Kualitatif, semoga bermanfaat..!

Wednesday, June 8, 2022

Pengertian Kualitas Jasa Menurut Para Ahli

Pengertian Kualitas Jasa Menurut Para Ahli

Pengertian Kualitas Jasa

Jasa dapat didefinisikan sebagai setiap tindakan atau perbuatan yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya bersifat intangible (tidak berwujud fisik) dan tidak menghasilkan kepemilikan sesuatu. Menurut Kotler dan Keller, dalam (Fandy Tjiptono 2014).


Pengertian jasa ialah setiap tindakan atau kinerja yang ditawarkan oleh satu pihak ke pihak lain yang secara prinsip tidak berwujud dan tidak menyebabkan perpindahan kepemilikan. Jadi dapat disimpulkan bahwa jasa merupakan keseluruhan aktivitas ekonomi yang ditawarkan oleh perusahaan kepada konsumen, yang pada dasarnya bersifat intangible (tidak berwujud fisik), tidak mengakibatkan kepemilikan apapun yang tujuannya adalah untuk memberikan kepuasan bagi konsumen Menurut Kotler yang dikutip oleh Hurriyati (2010) dalam jurnal Sartika Moha dan Sjendry Loindong (2016). 


Kualitas (quality) adalah totalitas fitur dan karakteristik produk atau jasa yang bergantung pada kemampuan untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau tersirat. Kita dapat mengatakan bahwa penjual telah menghantarkan kualitas ketika produk atau jasanya memenuhi atau melebihi ekspektasi pelanggan, Kotler dan Keller (2009). 


Menurut Groonroos dalam Fandy Tjiptono (2014) pada dasarnya kualitas suatu jasa yang dipersepsikan pelanggan terdiri atas dua dimensi. Dimensi pertama technical Quality (outcome dimension) berkaitan dengan kualitas output jasa yang dipersepsikan pelanggan. Dimensi kedua, Functional Quality (process-related dimension) berkaitan dengan kualitas cara penyampaian jasa atau menyangkut proses transfer kualitas teknis, output atau hasil akhir jasa dari penyedia jasa kepada pelanggan. 





Kualitas jasa yang baik merupakan hal yang sangat penting dalam menciptakan kepuasan pelanggan, namun untuk memahami bagaimana mengevaluasi kualitas yang diterima oleh konsumen tidaklah mudah. Kualitas jasa lebih sukar untuk dievaluasi dibandingkan dengan kualitas barang. Kualitas jasa tidak diciptakan melalui proses produksi dalam pabrik untuk kemudian diserahkan kepada konsumen sebagaimana kualitas barang. Sebagian besar kualitas jasa diberikan selama penyerahan jasa terjadi dalam proses interaksi di antara konsumen dan terdapat kontak personil dengan penyelenggara jasa tersebut (Andri, 2008). Dikutip oleh Komang Desiani dalam jurnal (2016). 


Menurut Fandy Tjiptono (2012) mendefinisikan bahwa kualitas jasa merupakan tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengedalian atas keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan konsumen. Kotler (2012) mengungkapkan bahwa jasa adalah setiap tindakan atau kinerja yang ditawarkan oleh satu pihak ke pihak lain yang secara prinsip tidak berwujud dan tidak menyebabkan perpindahan kepemilikan. Produksi jasa dapat terikat atau tidak terikat pada satu produk fisik. Dikutip oleh Sartika Moha dan Sjendry Loindong dalam jurnal (2016).



Kualitas merupakan
penampilan produk atau kinerja yang merupakan bagian utama dari strategi perusahaan dalam rangka meraih keunggulan kesinambungan, baik sebagai pemimpin pasar maupun inovator pasar. Sedangkan Menurut Zeithaml dan Bitner (2008) menyatakan bahwa kualitas jasa merupakan total pengalaman yang hanya dapat dievaluasi oleh konsumen. Sedangkan Loverlock dan Wirtz dalam Buku Donni Juni Priansa (2017), juga menyatakan bahwa kualitas jasa adalah tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk mememnuhi keinginan konsumen.


Kualitas total suatu jasa menurut Gilbert dalam Buku Donni Juni Priansa (2017) terdiri dari tiga komponen pokok, yaitu technical quality, functional quality, dan corporate image. technical quality yaitu komponen yang berkaitan dengan kualitas ouput jasa yang diterima konsumen. Functional Quality adalah komponen yang berkaitan dengan kualitas cara penyampaian suatu jasa. Sedangkan corporate image adalah profil reputasi, citra umum, dan daya tarik khusus suatu perusahaan. Kulitas dapat dilihat dari sebagi macam perspektif, kualitas dipandang sebagai : 
  1. Transcendental Approach. Kualitas di pandang sebagai Innact Exellence. Maksudnya adalah kuliatas dapat di rasakan atau diketahui tetapi sulit di definisikan dan di operasionalisasaikan. 
  2. Product- Based Approach. Pandangan ini menganggap bahwa kulitas merupkan karakteristik atau atribut yang dapat dikuantitatifkan dan dapat diukur. 
  3. User Based Approach. Pandangan ini berdasarkan pada pemikiran bahwa kualitas tergantung pada orang memandangnya, sehingga produk yang paling memuaskan preferensi seseorang merupakan produk yang berkualitas. 
  4. Manufacturing-Based Approach. Pandangan ini bersifat Suply Based dan terutama memperhatikan praktik-praktik dalam perekayasaan dan pemanufakturan serta mendefinisikan kulitas sebagai kesesuaian atau sama dengan persyaratan. 
  5. Value Based Approach. Pendekatan ini memandang kualitas dari sisi nilai dan harga yang ditawarkan kepada konsumen. 
  6. Market And Public Opinion Approach. Pandangan ini menganggap bahwa kualitas hanya ditentuka ketika produk tersebut diterima pasar dan opini konsumen terhadap produk tersebut bersifat positif. Berdasarkan definisi kualitas jasa diatas adalah hubungan antara produk dan pelayanan atau jasa yang diberikan kepada konsumen mampu memenuhi harapan dan kepuasan konsumen. Kualitas jasa juga merupakan salah satu kunci pemasaran dalam memenangkan persaingan dengan pasar. Ketika perusahaan telah mampu menyediakan jasa yang berkualitas maka telah membangun salah satu fondasi untuk menciptakan kepuasan pelanggan.



Sumber:
Fandi, Tjiptono. 2014. Service, Quality & Satisfaction. Edisi 3. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Sartika Moha dan Sjendi Loidong (2014). Analisis Kualitas Pelayanan Dan Fasilitas Terhadap Kepuasan Konsumen Pada Hotel Yuta Di Kota Manado. Fakultas  97  Ekonomi dan Bisnis, Jurusan Manajemen Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal EMBA   577 Vol.4 No.1 Maret 2016, Hal. 575-584


Sekian uraian tentang Pengertian Kualitas Jasa Menurut Para Ahli, semoga bermanfaat..!

Thursday, June 2, 2022

Pengertian Kas Menurut Para Ahli

Pengertian Kas Menurut Para Ahli

Pengertian Kas 

Menurut Purwaji Dkk (2017) kas merupakan alat pembayaran yang siap di pakai dan bebas di pergunakan untuk membiayai kegiatan- kegiatan umum yang ada di dalam perusahaan. 

Menurut Priyati (2016) kas merupakan alat pertukaran yang bisa di sebut suatualat pembayaran yang telah di miliki oleh sebuah perusahaan dan para penggunanya itu tidak pernah di batasi sedikitpun. 

Menurut Martani,Dkk (2016) kas merupakan aset keuangan yang bisa di gunakan untuk kegiatan operasional di sebuah perusahaan. Di dalam kas tersebut ada aset yang nilainya paling liquid karena dapat di gunakan untuk membayar kewajiban di perusahaan. 


Menurut Diana Dkk (2017) kas merupakan asset keuangan . Aset keuangan merupakan asset yang berbentuk kas , instrument ekuitas yang di terbitkan oleh entitas lain , hak kontraktual untuk menerima kas dari entitas lain , atau juga kontrak yang akan di selesaikan dengan menggunakan instrument ekuitas yang di terbitkan oleh entitas.

Menurut Ismail (2011) kas merupakan mata uang yang berupa kertas dan logam baik dalam valuta rupiah maupun valuta asing yang masih berlaku sebagai alat pembayaran yang sangat sah. 


Menurut Sulistiawan Dkk (2006) kas merupakan alat pembayaran yang berupa mata uang yang terdiri atas uang kertas , uang logam , dan simpanan yang ada di bank ( atau tempat selain bank) yang setiap saat bisa di ambil agar bisa di gunakan untuk bertransaksi , baik berupa mata uang asing maupun uang lokal. 


Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kas merupakan aset keuangan yang bisa digunakan untuk kegiatan operasional yang ada di dalam sebuah perusahaan dan kas tersebut bisa di gunakan sebagai alat suatu pembayaran yang tanpa dibatasi seperti waktu dan di dalam kas juga tidak ada sebuah resiko tentang perubahan nilai yang sangat signifikan . Keberadaan yang ada di dalam kas tersebut merupakan sebuah entitas yang sangat penting, karena tanpa kas aktivitas operasi yang ada di dalam perusahaan tersebut tidak dapat berjalan dengan lancar. 




Karakteristik Kas

Menurut Hery(2013) kas meliputi berbagai macam yaitu seperti uang logam , uang kertas, wesel pos (kiriman uang lewat pos yang bisa di sebut dengan money orders) dan deposito . Perangko bukan merupakan kas tetapi biaya yang harus di bayar di muka (prepaid ex-pense) atau bisa di sebut dengan beban yang di tangguhkan (deferred expense). Pada umumnya di dalam perusahaan telah membagi kas menjadi dua kelompok yaitu uang yang tersedia di kasir perusahaan (cash on hand) dan uang tunai yang tersimpan di dalam bank (cash in bank).


Menurut Martani,Dkk (2016) apabila kas yang telah di cadangkan menggunakan cara yang khusus, maka kas tersebut tidak bisa di golongkan sebagai kas , tetapi hanya bisa di klasifikasikan sebagai dana cadangan. 


Menurut Purwaji Dkk (2017:8) suatu alat pembayaran bisa kategorikan sebagai kas maka harus memenuhi kriteria- kriteria yang di ungkapkan.Di dalam kriteria tersebut ada 2 macam di dalam kas yaitu yang pertama adalah yang bisa di terima oleh masyarakat (bisnis) sebagai alat pembayarannya sesuai dengan nominalnya danyang ke dua adalah bisa di pergunakan sebagai alat pembayaran untuk kegiatan – kegiatan perusahaan sehari - harinya (pada setiap saat). 


Berdasarkan penjelasan karakteristik kas di atas maka dapat di simpukan bahwa di dalam karakteristik kas itu tidak hanya sebuah catatan saja , tetapi adapun juga ada berbagai macam - macam kas yang berasal dari uang logam, uang kertas, wesel , dan deposito dan karakteristik kas itu tidak bisa di golongkan tetapi bisa di akui sebagai dana cadangan.



Pengendalian Internal Kas 

Menurut Sari, Dkk (2017) Sistem pengendalian internal (control system) merupakan system dan prosedurnya yang telah ditetapkan oleh pihak manajemen untuk menjaga harta yang ada di dalam perusahaan dari kelalaian atau bisa di sebut dengan kesalahan (eror), kecurangan (frauds) dalam bentuk apapun, serta kejahatan (irregularities). 

Menurut Mulyadi (2016) Di dalam sistem pengendalian internal mempunyai sebuah sistem yang baik yaitu kas harus mempunyai syarat-syarat agar dapat melibatkan para pihak luar seperti bank supaya bisa terjun pada saat pencatatan ke dalam kas yangberupa ikut serta dalam melakukan pengawasan kas yang ada di dalam perusahaandan mempunyai 3 cara yakni : 

  1. Semua penerimaan yang ada di dalam kas harus bisa di setor semuanya ke bank pada hari yang sama dengan bukti penerimaan kas dan bisa di setor pada waktu hari kerja yang selanjutnya. 
  2. Semua tentang pengeluaran kas dapat di lakukan dengan cara menunjukkan cek atau bukti apapun agar mengetahui berapa nominal – nominal yang di keluarkan. 
  3. Pengeluaran kas yang tidak dapat di lakukan dengan cara menunjukkan cek (karena jumlahnya kecil) dapat di lakukan pencatatan di dana kas kecil yang dapat di terapkan dengan cara imprest system Berdasarkan penjelasan pengendalian internal kas di atas maka dapat di simpulkan bahwa di dalam pengendalian internal kas tersebut ada sebuahsistem dan prosedurnya yang telah di jalankan oleh pihak manajemen untuk mengatur semua kegiatan yang ada di dalam perusahaan.


Sumber:
Purwaji, Agus dkk. 2017. Pengantar Akuntansi 2. Edisi 2. Cetakan Kedua. Jakarta: Salemba Empat.
Priyati, Novi. (2016). “Pengantar Akuntansi.” Indeks. Jakarta Barat: Bahasa Indonesia



Sekian urain tentang Pengertian Kas Menurut Para Ahli, semoga bermanfaat..!

Wednesday, March 23, 2022

Pengertian Pemasaran Menurut Para Ahli

Pengertian Pemasaran Menurut Para Ahli

Pengertian Pemasaran 

Ada beberapa pengertian pemasaran menurut para ahli sebagai berikut: 

Menurut Tjiptono (2016), “pemasaran adalah aktivitas, serangkaian institusi, dan proses menciptakan, mengomunikasikan, menyampaikan, dan mempertukarkan tawaran (offerings) yang bernilai bagi pelanggan, klien, mitra, dan masyarakat umum”. 


Menurut Abdullah dan Tantri (2012), “pemasaran adalah suatu sistem total dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang-barang yang dapat memuaskan keinginan dan jasa baik kepada para konsumen saat ini maupun konsumen potensial”. 


Menurut Kismono (2011), “pemasaran adalah sekelompok aktivitas yang saling berkaitan yang dirancang untuk mengidentifikasi kebutuhan konsumen dan mengembangkan distribusi, promosi, dan penetapan harga serta pelayanan untuk memuaskan kebutuhan konsumen pada tingkat keuntungan tertentu”. 




Fungsi Pemasaran 

Adapun fungsi pemasaran yang dikemukakan menurut Sudaryono (2016) sebagai berikut: 
  1. Fungsi Pertukaran Dengan adanya pemasaran, pembeli dapat membeli produk dari produsen. Baik dengan menukar uang dengan produk maupun menukar produk dengan produk (barter) untuk dipakai sendiri atau untuk dijual kembali. Pertukaran merupakan salah satu dari empat cara orang mendapatkan suatu produk. 
  2. Fungsi Distribusi Fisik Distribusi fisik suatu produk dilakukan dengan mengangkut serta menyimpan produk. Produk diangkut dari produsen mendekati konsumen yang membutuhkan dengan banyak cara, baik melalui air, darat, udara, dan sebagainya. Penyimpanan produk mengedepankan upaya menjaga pasokan produk agar tidak kekurangan saat dibutuhkan.
  3. Fungsi Perantara Untuk menyampaikan produk dari tangan produsen ke tangan konsumen dapat dilakukan melalui perantara pemasaran yang menghubungkan aktivitas pertukaran dengan distirbusi fisik. Aktivitas fungsi perantara antara lain pengurangan risiko, pembiayaan, pencarian informasi serta standarisasi dan penggolongan (klarifikasi) produk.


Pengertian Penjualan 

Ada beberapa pengertian penjualan menurut para ahli sebagai berikut: 

Menurut Westwood (2006), “penjualan adalah konsep lugas yang diantaranya berupa usaha membujuk pelanggan unuk sebuah produk. Upaya itu meliputi “pesanan hari ini”. 

Menurut Sugiono dkk, dalam Arifin (2008), “penjualan adalah “pendapatan adalah penghasilan yang timbul dari aktifitas perusahaan yang biasa dikenal dengan sebutan yang berbeda disebut penjualan, penghasilan jasa (fees), bunga, deviden, rolyali, dan sewa”.


Faktor-faktor yang mempengaruhi Penjualan 

Menurut Swastha (2009), faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan penjualan yaitu: 
a. Kondisi dan kemampuan penjual 
Transaksi jual-beli atau pemindahan hak milik secara komersial atas barang dan jasa itu pada prinsipnya melibatkan dua pihak, yaitu penjual sebagai pihak pertama dan pembeli sebagai pihak kedua. Penjual harus dapat meyakinkan kepada pembeli agar dapat berhasil mencapai sasaran penjualan yang diharapkan oleh konsumen. Penjual harus memahami beberapa masalah penting yang sangat berkaitan yakni: 
  1. Jenis dan karakteristik barang yang ditawarkan 
  2. Harga Produk 
  3. Syarat penjualan, seperti: pembayaran, penghantaran barang, pelayanan purna jual, garansi dan sebagainya.
b. Kondisi pasar 
Pasar sebagai kelompok pembeli atau pihak yang menjadisasaran dalam penjualan, dapat pula mempengaruhi kegiatan penjualannya. Adapun faktor-faktor kondisi pasar yang perlu diperhatikan adalah:
  1. Jenis pasarnya, apakah pasar konsumen, pasar industri, pasar penjual, pasar pemerintahan ataukah pasar internasional 
  2. Kelompok pembeli atau segmen pasarnya 
  3. Daya belinya
  4. Frekuensi pembeliannya 
  5. Keinginan kebutuhan 
c. Modal 
Apabila barang yang dijual belum diketahui oleh pembeli maka penjual harus memperkenalkan dulu atau membawa barangnya ke tempat pembeli. Untuk melaksanakan maksud tersebut diperlukan adanya sarana serta usaha, seperti: alat transport, tempat peragaan baik di dalam perusahaan maupun diluar perusahaan, usaha promosi, dan sebagainya. Semua ini hanya dapat dilakukan apabila penjual memilik sejumlah modal untuk itu. 

d. Kondisi Organisasi 
Perusahaan Pada perusahaan besar bagian penjualan ditangani oleh orang yang telah ahli dibidang penjualan. Lain halnya dengan usaha kecil yang dimana bagian penjualanya ditangani oleh orang yang juga melakukan fungsi-fungsi lain hal ini disebabkan karena jumlah tenaga kerjanya lebih sedikit, sistem organisasinya lebih sederhana, masalah yang dihadapi serta sarana yang dimilikinya juga ditangani sendiri oleh pemimpin dan tidak diberikan kepada orang lain. 
e. Faktor lain yang mempengaruhi penjualan seperti periklanan, peragaan, kampanye, dan pemberian hadiah.


Sumber:
Fandy, Tjiptono. 2016. Service, Quality & satisfaction. Yogyakarta. Andi.
Abdullah, Thamrin., and Francis Tantri. 2012. Manajemen Pemasaran. PT Raja Grafindo Persada : Jakarta.


Sekian uraian tentang Pengertian Pemasaran Menurut Para Ahli, semoga bermanfaat...!

Thursday, January 20, 2022

Pengertian Globalisasi Menurut Para Ahli

Pengertian Globalisasi Menurut Para Ahli

Pengertian Globalisasi

Globalisasi merupakan perkembangan kontemporer yang memiliki pengaruh terhadap munculnya berbagai kemungkinan perubahan dunia. Pengaruh globalisasi dapat menghilangkan berbagai hambatan yang membuat dunia semakin terbuka dan saling membutuhkan antara satu sama lain. Dapat dikatakan bahwa globalisasi membawa perspektif baru tentang konsep "Dunia Tanpa Batas" yang saat ini telah menjadi realita dan berpengaruh secara signifikan terhadap perkembangan budaya yang akhirnya membawa perubahan baru. 


Berikut ini adalah pengertian dan definisi globalisasi menurut beberapa ahli: Globalisasi juga sering diartikan sebagai internasionalisasi karena keduanya memiliki banyak persamaan dari segi karakteristik, sehingga kedua istilah ini sering dipertukarkan. Beberapa pihak mendefinisikan globalisasi sebagai sesuatu yang berhubungan dengan berkurangnya kekuatan, peran dan batas-batas suatu negara. Dalam arti yang luas, globalisasi mengacu kepada seluruh kegiatan masyarakat dunia. Bahkan, globalisasi dapat juga didefinisikan sebagai intensifikasi hubungan sosial di seluruh dunia yang menghubungkan daerah-daerah terpencil dengan berbagai cara, dimana kejadian-kejadian lokal terbentuk oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi di tempat lain dan sebaliknya. Dibawah ini tercantum beberapa definisi globalisasi menurut para ahli.






Waters mendefinisikan globalisasi dari sudut pandang yang berbeda. Dia mengatakan bahwa globalisasi merupakan sebuah proses sosial, dimana batas geografis tidak penting terhadap kondisi sosial budaya, yang akhirnya menjelma ke dalam kesadaran seseorang.


Definisi ini hampir sama dengan apa yang dimaksudkan oleh Giddens. Dimana, globalisasi adalah adanya saling ketergantungan antara satu bangsa dengan bangsa lain, antara satu manusia dengan manusia lain melalui perdagangan, perjalanaan, pariwisata, budaya, informasi, dan interaksi yang luas sehingga batas-batas negara menjadi semakin sempit.


Pengertian globalisasi seperti ini juga telah disampaikan oleh beberapa ahli yang mengatakan bahwa globalisasi adalah proses individu, kelompok, masyarakat dan negara yang saling berinteraksi, terkait, tergantung, dan saling mempengaruhi antara satu sama lain, yang melintasi batas negara.

Tomlinson mendefinisikan globalisasi sebagai suatu penyusutan jarak yang ditempuh dan pengurangan waktu yang diambil dalam menjalankan berbagai aktifitas sehari-hari, baik secara fisik (seperti perjalanan melalui udara) atau secara perwakilan (seperti penghataran informasi dan gambar menggunakan media elektronik), untuk menyebrangi mereka.


Menurut Lyman bahwa globalisasi biasanya diartikan sebagai "rapid growth of interdependency and connection in the world of trade and finance". Tetapi, ia sendiri berpendapat bahwa globalisasi tidak hanya terbatas hanya pada fenomena perdagangan dan aliran keuangan yang berkembang dengan kian meluas saja, ini karena adanya kecendrungan lain yang didorong oleh kemampuan teknologi yang memfasilitasi perubahan keuangan, seperti globalisasi komunikasi "there are other trends driven by the same explosion of technological capability that have facilitated the financial change. Globalization of communication is one such trend". Globalisasi dapat dilihat sebagai kompresi ruang dan waktu dalam hubungan sosial dan munculnya kesadaran global tentang kemampatan tersebut. Dalam bahasa seharihari, proses ini bisa dikatakan sebagai "dunia menjadi semakin kecil". 

Globalisasi dapat juga didefenisikan sebagai proses pertumbuhan dan perkembangan kegiatan ekonomi lintas batas nasional dan regional. Ini diperlihatkan melalui pergerakan barang, informasi, jasa, modal dan tenaga kerja melalui perdagangan dan investasi. Scholte melihat beberapa defenisi yang dimaksudkan dengan globalisasi, antaranya adalah sebagai berikut:
  1. Internasionalisasi. Globalisasi diartikan sebagai meningkatnya aktivitas hubungan internasional. Walaupun masing-masing negara masih mempertahankan identitasnya, namun menjadi semakin tergantung antara satu sama lain. 
  2. Liberalisasi. Globalisasi juga diartikan sebagai semakin berkurangnya batas-batas sebuah negara. Misalnya, masalah harga ekspor/impor, lalu lintas devisa dan migrasi. 
  3. Universalisasi. Semakin luasnya penyebaran material dan immaterial ke seluruh dunia, hal ini juga diartikan sebagai globalisasi. Pengalaman di satu tempat dapat menjadi pengalaman di seluruh dunia.
  4. Westernisasi. Westernisasi merupakan satu bentuk dari universalisasi, dimana makin luasnya penyebaran budaya dan cara berfikir sehingga berpengaruh secara global. 
  5.  Hubungan transplanetari dan suprateritorialiti. Definisi yang kelima ini sedikit berbeda dengan keempat definisi sebelumnya. Keempat definisi sebelumnya mengidentifikasi bahwa masing-masing negara masih mempertahankan status ontologinya, namun pada definisi yang kelima ini menyatakan bahwa dunia global mempunyai ontologinya sendiri, bukan sekedar gabungan dari berbagai negara.

Namun sejauh ini, penggunaan istilah globalisasi belum memberikan definisi yang jelas. Meskipun beberapa fitur dan dimensi telah banyak dinyatakan seperti di atas. Konsep globalisasi perlu dikupas secara lebih mendalam sehingga kita dapat menilai pengaruh globalisasi terhadap peradaban dan perubahan perilaku. Memang, sampai saat ini, kita belum memiliki definisi dan konsep globalisasi yang jelas. Kita anggap bahwa kesepakatan para ahli tentang isu defenisi globalisasi belum/tidak akan tercapai. Hal yang sama juga belum adanya kesepakatan ilmiah dalam perumusan konsep budaya dan peradaban itu sendiri.

Seperti telah ditampilkan di atas bahwa cakupan globalisasi sangat luas. Berdasarkan pendapat para ahli, definisi globalisasi secara komprehensif adalah suatu himpunan dari proses pengaliran global dari berbagai jenis objek yang melibatkan setiap bidang aktifitas manusia baik bentuk fisik, maupun non-fisik, informasi, ide, institusi dan sistem. Himpunan proses aliran ini dan bidang kegiatan manusia yang terlibat kian kait mengait, saling tergantung dan semakin kompleks sifatnya.

Globalisasi dalam arti yang luas ini adalah merupakan suatu fakta yang tidak perlu diperdebatkan. Dan mungkin kita setuju bahwa pada hakikatnya proses globalisasi itu telah ada jauh sebelum istilah globalisasi itu diperkenalkan. Atau lebih tepatnya, proses globalisasi yang terjadi sebelum istilah globalisasi diperkenalkan sering disebut sebagai globalisasi tanpa nama "Globalization was reality without name". Globalisasi tanpa nama ini ada sebelum era penjajahan dan imperalisme Barat yang dimulai sekitar tahun 1500, bahkan sebelum peradaban Islam mengusai dunia. Malahan, akar rumput globalisasi dapat dilacak di zaman pra-Islam.


Menurut Mars bahwa pada sifatnya, imperealisme merupakan bentuk dari globalisasi. Atau paling tidak, dapat dianggap sebagai agen globalisasi. Seperti yang kita tahu bahwa setiap imperialisme memiliki kecendrungan untuk mengglobalisasikan objek-objek tertentu. Berdasarkan pandangan ini, kita dapat mengatakan bahwa peradaban Romawi dan peradaban Persia, yang ada sebelum peradaban Islam, telah memicu tren globalisasi dan mempercepat perkembangannya. Tentu, globalisasi saat ini tentu memiliki perbedaan dengan globalisasi pada masa lampau. Namun perbedaan itu bukan dari segi sifatnya tetapi dari segi fitur-fiturnya. Artinya, selagi kita berbicara fakta yang sama yaitu globalisasi, maka sifatnya akan tetap sama walupun zamannya telah berubah. Sifat globalisasi adalah proses pengaliran secara global dari berbagai objek. Malahan, secara kasarnya, bidangbidang aktifitas manusia yang terlibat dalam proses pengaliran objek-objek tersebut tidak berubah.


Fitur globalisasi telah mengalami banyak perubahan seiring dengan perubahan zaman. Misalnya, fitur secara eksponensial, saling ketergantungan, kecepatan dan luas. Aliran berbagai objek zaman sekarang jauh lebih cepat, lebih banyak dan lebih luas dibandingkan dengan zaman-zaman lampau. Fenomena globalisasi seperti ini dapat dikiaskan sebagai suatu gelombang yang melanda dunia. Gelombang pada zaman modern lebih kuat, besar dan lebih cepat dibandingkan gelombang globalsisai pada zaman peradaban Islam. Pada masa pasca modern, gelombang globalisasi lebih besar lagi, lebih kuat dan lebih merajalela di berbagai belahan dunia.

Konsep globalisasi perlu penjelasan yang lebih rinci agar kita dapat mengevaluasi pengaruh globalisasi terhadap segala segi kehidupan seperti politik, ekonomi, sosial, budaya dan agama. Sifat dan ruang lingkup pengaruh globalisasi yang dapat dibahas tergantung pada makna yang diberikan kepada istilah globalisasi itu sendiri. Dan perlu difahami bahwa makna globalisasi merupakan "sumber pengaruh", sedangkan "penerima pengaruh" adalah segala segi kehidupan.


Sumber:
Seperti yang dinyatakan oleh Osman dalam Osman, B., 2008. Pengaruh Globalisasi Terhadap Peradaban. Jurnal Peradaban, 1. ISSN 1985-6296, h. 75-98.
Waters, M. 1995. Globalization. 2nd Edition. Taylor and Francis Group. London.


Sekian uraian tentang Pengertian Globalisasi Menurut Para Ahli, semoga bermanfaat..!

Wednesday, December 15, 2021

Pengertian Agama Menurut Para Ahli

Pengertian Agama Menurut Para Ahli

Pengertian Agama 

Banyak pengertian atau makna dari agama, dari berbagai tokoh dan pengamal keagamaan. Dari sini maka akan diuraikan terlebih dahulu agama menurut bahasa dan kemudian agama menurut istilah. Agama secara bahasa yakni : 

  1. Agama berasal dari bahasa Sansekerta yang diartikan dengan haluan, peraturan, jalan, atau kebaktian kepada Tuhan.
  2. Agama itu terdiri dari dua perkataan, yaitu “A” berarti tidak, “Gama” berarti kacau balau, tidak teratur. 
Adapun menurut istilah, agama adalah ajaran atau sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta tata kaidah–kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dengan manusia serta lingkungannya. Agama sebagai sistem– sistem simbol, keyakinan, nilai, perilaku yang terlambangkan, yang semuanya itu berpusat pada persoalan–persoalan paling maknawi.


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, agama adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban–kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut. Secara terminologi, agama juga didefinisikan sebagai Ad-Din dalam bahasa Semit berarti undang–undang atau hukum.


Adapun pengertian agama menurut Elizabet K. Notthigham dalam bukunya Agama dan Masyarakat berpendapat bahwa agama adalah gejala yang begitu sering terdapat dimana-mana sehingga sedikit membantu usaha-usaha kita untuk membuat abstraksi ilmiah. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa agama terkait dengan usaha-usaha manusia untuk mengatur dalamnya makna dari keberadaannya sendiri dan kederadaan alam semesta. Agama telah menimbulkan khayalnya yang paling luas dan juga digunakan untuk membenarkan kekejaman orang yang luar biasa terhadap orang lain. Agama dapat membangkitkan kebahagiaan batin yang sempurna, dan juga perasaan takut dan ngeri. Agama juga merupakan pantulan dari solidaritas sosial.


Dalam pandangan Weber, agama merupakan suatu dorongan yang kuat dalam semangat mencari ekonomi dalam berbagai bentuk terutama yang di kembangkan oleh Protestan, Pandangan Weber mengenai hal ini adalah penolakan terhadap tradisi, atau perubahan sangat cepat dalam metode dan evaluasi terhadap kegiatan ekonomi, tidak akan mungkin terjadi tanpa dorongan moral dan agama.






Fungsi Agama

Secara sosiologis, agama menjadi penting dalam kehidupan manusia dimana pengetahuan dan keahlian tidak berhasil memberikan sarana adaptasi atau makanisme penyesuaian yang dibutuhkan, Dari sudut pandang teori fungsional, agama menjadi penting sehubungan dengan unsur-unsur pengalaman manusia yang diperoleh dari ketidakpastian, ketidakberdayaan dan kelangkaan yang memang merupakan karakteristik fundamental kondisi manusia. Maka kemudian, fungsi agama adalah menyelesaikan dua hal, yang pertama, suatau cakrawala pandangan tentang dunia luar yang tidak terjangkau oleh manusia, dalam arti dimana deprivasi dan frustasi dapat dialami sebagai suatu yanng mempunyai makna. Kedua, sarana ritual yang memungkinkan hubungan menusia dengan hal diluar jangkauannya, yang memberikan jaminan dan keselamatan bagi manusia untuk mempertahankan moralnya.



Pembahasan tentang fungsi agama pada masyarakat akan dibatasi pada dua hal, yaitu agama sebagai faktor integratif dan sekaligus disintegratif bagi masyarakat. 
  •  Fungsi Integratif Agama Peranan sosial agama sebagai faktor integratif bagi masyarakat berarti peran agama dalam menciptakan suatu ikatan bersama, baik diantara anggota-anggota beberapa masyarakat maupun dalam kewajiban-kewajiban sosial yang membantu mempersatukan mereka. Hal ini dikarenakan nilai-nilai yang mendasari sistem-sistem kewajiban sosial didukung bersama oleh kelompok-kelompok keagamaan, sehingga agama menjamin adanya konsensus dalam masyarakat. 
  • Fungsi Disintegratif Agama. Meskipun agama memiliki peranan sebagai kekuatan yang mempersatukan, mengikat, dan memelihara eksistensi suatu masyarakat, pada saat yang sama agama juga dapat memainkan peranan sebagai kekuatan yang mencerai-beraikan, memecah-belah bahkan menghancurkan eksistensi suatu masyarakat. Hal ini merupakan konsekuensi dari begitu kuatnya agama dalam mengikat kelompok pemeluknya sendiri sehingga seringkali mengabaikan bahkan menyalahkan eksistensi orang lain yang dianggap menyalahi aturan- aturan yang ada dalam wahyu.


Dalam hal ini, agama lebih bersifat eksklulsif terhadap fenomena- fenomena yang terjadi dalam masyarakat kita. Agama di dalam masyarakat, adalah ketika dimana agama mampu memberikan implementasinya terhadap setiap manusia, dimana hal itu akan mempengaruhi dan memberikan peraturan dan norma–norma yang akan menjadi landasan hidup.


Dalam sosiologi, agama dipandang sebagai sistem kepercayaan yang diwujudkan dalam perilaku sosial tertentu. Ia berkaitan dengan pengalaman manusia, baik sebagai individu maupun kelompok. Sehingga sikap perilaku yang diperankannya akan terkait dengan sistem keyakinan dari ajaran agama yang dianutnya. Jadi, eksistensi suatu agama di dalam suatu masyarakat sangatlah berpengaruh, dimana semua perilaku manusia baik sebagai individu maupun kelompok dibentuk oleh nilai etis dari agama masing –masing.


Dalam sosiologi tidak pernah agama didefinisikan secara evaluatif (menilai). Ia “angkat tangan” mengenai hakekat agama, baiknya atau buruknya agama atau agama-agama yang tengah diamatinya. Dari pengamatan ini, ia hanya sanggup memberikan definisi yang deskriptif (menggambarkan apa adanya), yang mengungkapkan apa yang dimengerti dan dialami pemeluk-pemeluknya. Jadi singkatnya, sosiologi mendefinisikan agama sebagai suatu jenis sistem sosial yang dibuat oleh para penganutnya yang berporos pada kekuatan–kekuatan nonempiris yang dipercayainya dan didayagunakannya untuk mencapai keselamatan bagi diri mereka dan masyarakat luas umumnya.


Agama bagi Greetz lebih merupakan sebagai nilai-nilai budaya, dimana ia melihat nilai-nilai tersebut ada dalam suatu kumpulan makna. Dimana dengan kumpulan makna tersebut, masing-masing individu menafsirkan pengalamannya dan mengatur tingkah lakunya. Sehingga dengan nilai-nilai tersebut pelaku dapat mendefinisikan dunia dan pedoman apa yang akan digunakannya.



Sumber:
Abudin Nata, Metodologi Studi Islam (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2009),9.
Djamaludin Ancok dan Fuad Nasrhori Suroso, Psikologi Islam (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1994), 74.


Sekian uraian tentang Pengertian Agama Menurut Para Ahli, semoga bermanfaat.